BLACK SKIN WHITE MASKS

BLACK SKIN WHITE MASKS
Kode Produk: Poskolonial
Point Reward: 0
Ketersediaan: Tersedia
Harga: Rp85.000,00 Rp76.500,00
Tanpa Pajak: Rp76.500,00
Jml:  Beli
   - ATAU -   
BLACK SKIN WHITE MASKS
Kolonialisme, Rasisme, dan Psikologi Kulit Hitam
Fanon, Frantz
Yogyakarta: Jalasutra
Cetakan I, 2016
xx+188 hlm; 15 x 23 cm
ISBN: 978-602-8252-99-7
 
 
Pemikiran Frantz Fanon dalam buku ini telah menyumbang pengaruh penting dalam diskursus identitas kulit hitam dan teorisasi kritis tentang isu ras. Sebagai karya yang begitu berpengaruh dalam gerakan antikolonnial, perjuangan hak-hak sipil dan kesadaran kulit hitam di penjuru dunia, buku ini menawarkan kajian psikologi kulit hitam di dunia kulit putih yang sulit ditandingi. Analisis ilmiah dan gaya tutur puitis yang ditawarkan buku ini mengukuhkan signiikansi buku ini sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1952 hingga saat ini. Buku ini merupakan sumber liteatur yang penting mengenai perjuangan revolusioner melawan kolonialisme dan diferensiasi berbasis ras dalam sejarah masyarakat.[]
 
 
Daftar Isi
 
Sepatah Kata vii
Pengantar xi
1.
Kulit Hitam dan Bahasa 1
2.
Perempuan Kulit Berwarna dan Pria Kulit Putih 23
3.
Pria Kulit Berwarna dan Perempuan Kulit Putih 43
4.
“Kompleks Ketergantungan” Orang Terjajah 61
5.
Pengalaman yang Dilalui Kulit Hitam 83
6.
Kulit Hitam dan Psikopatologi 111
7.
Kulit Hitam dan Pengakuan 167
8.
Sebentuk Kesimpulan 179
 
 
 
Frantz Fanon lahir di Martinique pada tahun 1925 dan bersekolah di sana sebelum akhirnya pindah ke metropolitan Prancis untuk melanjutkan studinya. Saat Perang Dunia II ia bergabung dalam milisi Free French Army, yang mengenalkannya dengan Afrika Utara untuk pertama kali. Setelah perang usai, ia mengambil kuliah di fakultas kedokteran dan psikiatri di Universitas Lyon dan lulus tahun 1951. Dua tahun kemudian, ia ditugaskan mengelola unit psikiatri di rumah sakit Blida-Joinville di Aljazair. Di situ ia mengenal dan bergabung dengan gerakan pembebasan Aljazair, National Liberation Front (FLN), dan menyumbangkan tulisannya untuk koran bawah tanah, Al Moujahid. Ia diusir dari Aljazair oleh penguasa Prancis pada tahun 1957, dan kemudian pindah ke Tunisia, tempat ia membuka praktik psikiatri dan melanjutkan aktivitasnya di FLN. Pada tahun 1961, ia ditunjuk sebagai duta besar Ghana oleh pemerintah Aljazair, dan meninggal karena leukemia pada tahun yang sama.Kehidupan singkat Fanon mungkin hanya menjadi catatan kaki  dalam sejarah pendudukan Prancis di Afrika jika ia tidak menulis dua buku: Black Skin, White Masks, yang sedang Anda baca ini, dan The Wretched of the Earth. Dalam dua buku tersebut (dan tulisan-tulisan lainnya), Fanon mengeksplorasi karakteristik kolonialisme dan rasisme, serta kerusakan psikologis yang ditimbulkan kolonialisme pada penduduk terjajah dan penjajah. Secara provokatif ia juga menulis peran kekerasan pada perjuangan antikolonial di pertengahan abad kedua puluh. Gagasan-gagasan Fanon berpengaruh luas pada para intelektual di seluruh dunia selama bertahun-tahun setelah wafatnya. Ada tiga tema yang saling berkelindan dalam tulisan Fanon: kritik etnopsikiatri (bertujuan memberi gambaran kehidupan mental penduduk terjajah saat sehat atau sakit), kritik tentang Eurosentrisme pada psikoanalisis, dialog dengan sudut pandang kulit hitam (Negritude), dan sistem pikiran dominan di antara intelektual kulit hitam yang berbahasa Prancis. Ia mempertanyakan kredibilitas kehidupan mental orang-orang kulit hitam dan perkembangan filsafat politik dekolonisasi yang berawal dari premis kerusakan psikologis akibat kolonialisme.
 
Seperti yang tersurat dalam tema-tema tersebut, karya Fanon secara fundamental sangat dipengaruhi oleh latar belakangnya sebagai psikiater, dan oleh karya etnopsikiatris Eropa yang mencoba memahami aspek kejiwaan masyarakat non-Eropa. Namun, seperti kebanyakan kaum intelektual Afrika dan Afro-Karibia berbahasa Prancis pada pertengahan abad kedua puluh, pikiran Fanon juga dibentuk oleh gagasan-gagasan gerakan kulit hitam. Dalam buku pertamanya ini, Black Skin, White Masks, yang diterbitkan tahun 1952, Fanon menegaskan bahwa “yang dinamakan jiwa hitam itu adalah konstruksi yang dibuat orang-orang kulit putih.” Ia mengatakan, klaim bahwa “spirit Kulit Hitam” yang konon dimiliki oleh orang-orang kulit hitam seperti yang digembar-gemborkan oleh penulis kulit hitam itu sebenarnya fantasi orang Eropa belaka. Fanon juga menentang asumsi kulit hitam tentang solidaritas alami masyarakat kulit hitam –di Karibia dan Afrika– sebagai kesalahan politis. Alih-alih kembali ke masa lalu Afrika, intelektual kulit hitam harus beradaptasi dengan budaya Eropa modern, dan mereka harus membantu perubahan kehidupan sehari-hari masyarakat kulit hitam. Dan meskipun ia banyak melakukan kritik semacam itu, Fanon mengakui bahwa sudut pandang kulit hitam bisa memainkan peranan besar untuk membebaskan intelektual penduduk asli dari ketergantungan mereka pada budaya metropolitan.
 
Dalam buku ini, Fanon mengembangkan tulisan tentang dampak psikologis rasisme berdasarkan pengalaman sendiri di antara kehidupan kelas menengah kulit hitam di Karibia Prancis. Budaya kolonial yang dominan, kata Fanon, melihat kulit hitam dengan jijik, dan bangsa Antilles menerima pandangan tersebut, sehingga tanpa disadari justru merendahkan diri mereka sendiri. Para perempuan jajahan mengidentifikasi diri mereka sebagai kulit putih, misalnya, dengan mencoba menghindari berhubungan secara seksual dengan pria kulit hitam, dan lebih mendekati (dan akhirnya hidup bersama) pria kulit putih, proses itu disebut Fanon sebagai “laktifikasi.” Sikap merendahkan diri tersebut mengejawantah dalam berbagai bentuk: sebagai kegelisahan, di hadapan kulit putih menunjukkan inferioritas kulit hitam “alami”, hipersensitivitas patologis yang disebut Fanon sebagai “eretisme afektif”, ketakutan eksistensial, dan penolakan neurotis untuk menerima diri sebagai orang kulit hitam. Anak-anak kulit hitam yang dibesarkan dengan asumsi kultural sistem kolonial yang rasis bisa sedikit meredakan ketegangan antara hinaan karena menjadi golongan kulit hitam dan karena terlahir berkulit hitam dengan membayangkan diri mereka berkulit putih. (Maka, judul buku ini “white masks”, bertopeng putih). Pendekatan Fanon dalam bukunya Black Skin, White Masks berfokus pada masalah identitas yang diciptakan untuk subjek jajahan oleh rasisme kolonial, dan dorongan untuk lari dari neurosis tersebut, yang diakibatkan oleh kolonialisme.
 
Kehebatan dan kedalaman tulisan Fanon bisa dirasakan lewat terjemahan bahasa Inggris versi Richard Philcox ini.1 Kita tidak lagi menganggap kerangka psikoanalisis bermanfaat untuk memahami sebab-akibat rasisme seperti dulu. Namun, kita tetap bisa merasakan getaran kerusakan psikologis yang menimpa penduduk terjajah –dan para penjajah yang menindas mereka. Dan jika kita tidak sepenuhnya percaya pada teorinya, tulisan Fanon tetap menjadi pengingat akan beban psikologis yang ditimpakan rasisme kolonial pada para korbannya. Namun, meskipun Black Skin, White Masks menjadi dakwaan yang tajam pada kolonialisme, buku ini juga merupakan undangan penuh harapan untuk membina hubungan baru antara kulit hitam dan kulit putih, penjajah dan yang terjajah: setiap kita, kata Fanon (di halaman terakhir buku ini), harus “meninggalkan suara-suara tak manusiawi warisan para leluhur kita agar hubungan tulus bisa lahir.” Pesan itu, sayangnya, masih sangat relevan dewasa ini.[]
 

Tulis review

Nama Anda:


Review Anda: Note: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Bagus

Masukkan kode verifikasi berikut:



Bestsellers
Pesan, Tanda, dan Makna
Rp120.010,00 Rp108.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Elemen-elemen Semiologi
Rp58.010,00 Rp52.209,00
Berdasarkan pada 1 review.
Feminist Thought
Rp130.010,00 Rp117.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Dominasi Maskulin
Rp56.010,00 Rp50.409,00
Catatan Harian Anne Frank
Rp99.000,00 Rp72.918,00
Imaji/Musik/Teks
Rp67.010,00 Rp60.309,00
Jalasutra © 2017 - Designed By Yoocart
View Mobile / Standard