Redefinisi Subjek dalam Kebudayaan*

Redefinisi Subjek dalam Kebudayaan*
Kode Produk: Cultural Studies
Point Reward: 0
Ketersediaan: Out Of Stock
Harga: Rp40.000,00 Rp34.000,00
Tanpa Pajak: Rp34.000,00
Jml:  Beli
   - ATAU -   

Judul : Redefinisi Subjek dalam Kebudayaan

Penulis : Thomas Kristiatmo

Cetakan : 2007

Tebal : 113 halaman

Ukuran : 15 x 21 cm

ISBN : 979-3684-74-7

 

Deskripsi:

SAAT ini kita sering mendengar berbagai klaim yang menyatakan matinya segala sesuatu: matinya ekonomi, matinya ideologi, matinya filsafat, matinya sastra, dan yang paling provokatif adalah klaim bahwa "Subjek sudah coati". Klaim tersebut bisa berbentuk otonomi `tulisan' (Derrida, Barthes), atau kepentingan berbagai 'struktur kekuasaan' (Foucault), maupun 'tubuh tanpa organ' (Deleuze & Guattari). Wacana-wacana semacam ini kemudian berkembang dalam berbagai kerumitan abstraksinya.

Dalam situasi seperti itu, tampillah Slavoj Zizek yang malah membetot kembali segala wacana rumit tersebut kembali ke kehidupan nyata sehari-hari. Zizek berbicara ihwal 'subjek' Berta mendudukannya kembali sebagai sentral. lbarat senjata makan tuan, Zizek melakukan pembalikan tersebut justru dengan menggunakan pemikiran yang telah menyebabkan kematian subjek itu sendiri, yaitu tradisi Strukturalisme.

Sebagai pemikir yang melawan arus, Zizek seringkali hanya dipandang sebagai figur eksentrik atau reaksioner, dengan gaga menulis yang genit. Zizek memang gemar bicara tentang perkara teoretis yang sublim dan pelik dengan memadukannya pada berbagai gejala budaya pop. Misalnya membahas dekonstruksi filosofis dengan mengaitkannya pada film Alien'; semacam bicara ihwal musik klasik dengan mengacu pada dangdut. Buku ini merupakan sebuah upaya fasih dan renyah untuk menampilkan pemikiran yang ditawarkan Zizek secara ringkas, padat namun cukup menyeluruh. Penulisnya, Thomas Kristiatmo, berhasil mencairkan kerumitan wacana Lacanian pada karya-karya Zizek, menyiangi segala kegenitannya yang talk perlu dan lantas secara kritis dan kreatif mendudukannya pada konteks permasalahan budaya hari ini.

Buku ini penting bagi mereka yang ingin melangkah keluar dari belenggu wacana postrukturalisme atau postmodernisme, yang memang cenderung berjalan berputar-putar di tempat. Dan di negeri ini orang memang sedang heboh berebut untuk berperan dan dianggap sebagai subjek, sementara otoritas kebudayaan yang menyediakan pola dasar artikulasinya justru sedang berantakan, buku Kristiatmo ini memungkinkan pencerahan tersendiri. (Bambang Sugiharto)

 

 

Daftar Isi

 

Tentang Penulis – v

Preambule – 1

Kata Pengantar – 3

I Preludium: Menyoal Subjek – 7

II Manusia menjadi Subjek – 14

Percikan-percikan dalam Filsafat Yunani – 14

Subjektivitas Abad Pertengahan – 18

Kelahiran Sang Subjek: Zaman Modern – 21

Senjakala Sang Subjek – 30

III Redefinisi Subjek – 17

Upaya Menyelamatkan Subjek Cartesian – 37

Psikoanalisis Lacanian dan Reinterpretasi Subjek Modern – 41

Reinterpretasi Subjek – 50

Identifikasi dan Relasi Antar Subjek – 55

Žižek dan Opera – 65

Subjek, Realitas Virtual, dan Virtualitas Subjek – 69

Kebebasan Paradoks – 74

IV Subjek dan Kebudayaan – 79

Konsep Kebudayaan – 79

Tinjauan Kritis Kebudayaan – 83

Subjek dan Kebudayaan – 89

V Postludium – 94

Catatan-catatan – 102

Daftar Pustaka – 115

Indeks – 119

 

 

Preambule

 

O philosophy, life’s guide!

O searcher-out of virtue and expeller of vices!

What could we and every age of men have been

without thee?

Thou hast produced cities.

Thou hast called men scattered about into the social

enjoyment of life.

(Cicero, Tusc. Quaest. Bk. V.2.5)

 

 

Kata Pengantar:

MENGAPA SUBJEK, MENGAPA ŽIŽEK

 

Salah satu hal paling provokatif dalam zaman ini adalah pengakuan dari kaum Postrukturalis, bahwa “Subjek sudah mati”. Maksudnya, subjek sebagai agen sentral dalam modernitas ala Descartes dan Kant. Pernyataan ini telah menjadi sedemikian populer sehingga bersikukuh menegaskan dan membicarakan primas subjek saat ini menjadi terasa ganjil dan mengada-ada. Tapi masalahnya adalah, kendati Postrukturalisme telah membukakan pelbagai kemungkinan baru yang sangat menarik dan penting untuk memahami kekuatan—sekaligus ketidakpastian—struktur-struktur, pernyataan “subjek sudah mati” tetaplah merupakan pandangan yang sejak awal memang selalu problematis, berlebihan, dan karenanya tak terlalu meyakinkan.

Pandangan-pandangan yang beramai-ramai menyingkirkan subjek, baik atas nama otonomi “tulisan” (Derrida, Barthes), atau kepentingan pelbagai “struktur kekuasaan” (Foucault), maupun “tubuh tanpa organ” (Deleuze), misalnya, kendati memangmendalam, pelik dan canggih, tetaplah pada akhirnya menyudutkan kita pada pertanyaan yang sangat sederhana: “kalau memang ‘subjek’ sebenarnya tidak ada, lantas para filsuf yang membuat pernyataan-pernyataan itu sendiri mesti disebut apa, kalau bukan ‘subjek’ juga?” Kemudian juga, andai “subjek” tidak ada, mereka itu sedang berbicara kepada siapa atau untuk siapa ?

Tentu itu bisa dijawab dengan mengatakan bahwa yang dimaksud oleh para filsuf postrukturalis itu bukan “subjek” dalam artian sosok manusianya, melainkan “isi” sosok itu dimengerti sebagai “apa”. Jadi yang mereka bicarakan bukanlah “ada/tidaknya” subjek, melainkan “apa”-nya subjek itu. Meskipun begitu, pertanyaan yang sama tetap bisa diajukan: “lantas para filsuf postrukturalis itu menganggap diri mereka sebagai ‘apa’?”

Atau barangkali pernyataan kaum postrukturalis itu hanyalah sekadar pernyataan “retoris” dalam rangka menarik perhatian pada isu penting tertentu, yakni sentralitas struktur bahasa, wacana, tulisan dan kekuasaan dalam reflektivitas manusia. Jika memang demikian, masalahnya adalah bahwa dalam perkembangan wacananya, retorika itu akhirnya mengalami involusi atau proses hiperealnya sendiri, hingga ujung-ujungnya ia terlepas dari acuan dasar realnya sama sekali.

Dalam situasi semacam itulah dibutuhkan orang “gila” yang berani nekad membetot lagi segala wacana, yang telah terbang tinggi dan telanjur beranak-pinak dalam kerumitan abstraksi itu, kembali ke bumi yang nyata sehari-hari. Dan orang yang melawan arus dan paling vokal berbicara ihwal “subjek” serta mendudukkannya kembali sebagai sentral itu adalah Slavoj Žižek. Dan yang menarik adalah bahwa pembalikan ini justru dia lakukan dengan senjata dan amunisi yang telah melahirkan kematian subjek itu sendiri: tradisi Strukturalisme. Ibarat senjata makan tuan. Lewat tafsir atas strukturalisme psikoanalitik lacanian yang sebenarnya cukup segar—kendati selalu bisa kita kritik—Žižek justru membela kerangka berpikir modern cartesian secara unik, merangsang dan menantang.

Sebagai orang yang nekad melawan arus, tentu ia pun menjadi sosok yang kontroversial. Publik Amerika, misalnya, cenderung hanya melihat dia sebagai figur eksentrik atau reaksioner, dengan gaya menulis kegenitan. Celakanya, Žižek memang gemar bicara tentang perkara teoretis yang sublim dan pelik dengan memadukannya pada pelbagai gejala budaya pop, hingga sering terasa mengada-ada. Misalnya, ia membahas dekonstruksi filosofis dengan mengaitkannya pada film Alien; semacam bicara ihwal musik klasik dengan mengacu pada dangdut, begitulah. Gaya penulisannya memang sangat idiosinkretik, tak lazim, dan agak dibuat-buat, hingga substansi isinya memang sering terasa kabur. Sayang bahwa itu semua membuat para pembacanya jadi kurang peka terhadap kesungguhan substansi yang ditawarkannya. Di sisi lain, tulisantulisan Žižek memang juga fragmentaris dan tak mudah untuk dipadukan dalam suatu kesatuan utuh. Maka tak mengherankan bahwa orang sering tak terlalu melihat signifikasi yang serius pada tulisan-tulisannya itu.

Buku yang ada di tangan Anda ini adalah sebuah upaya bagus, fasih dan renyah, untuk menampilkan substansi yang ditawarkan Žižek secara ringkas, padat namun cukup menyeluruh. Penulisnya, Thomas Kristiatmo, berhasil mencairkan kerumitan wacana lacanian pada karya-karya Žižek, menyiangi segala kegenitannya yang tak perlu dan lantas secara kritis dan kreatif mendudukannya pada konteks permasalahan budaya hari ini. Buku ini penting bagi mereka yang ingin melangkah ke luar dari belenggu wacana postrukturalisme atawa posmodernisme, yang memang cenderung berjalan berputar-putar di tempat. Dan ketika di negeri ini dalam kenyataannya orang memang sedang hebohberebut untuk berperan dan dianggap sebagai “subjek”, sementara otoritas kebudayaan yang menyediakan pola dasar artikulasinya justru sedang berantakan, buku Kristiatmo ini memungkinkan pencerahan tersendiri.[]

Bambang Sugiharto

Tulis review

Nama Anda:


Review Anda: Note: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Bagus

Masukkan kode verifikasi berikut:



Bestsellers
Pesan, Tanda, dan Makna
Rp120.010,00 Rp108.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Elemen-elemen Semiologi
Rp58.010,00 Rp52.209,00
Berdasarkan pada 1 review.
Feminist Thought
Rp130.010,00 Rp117.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Dominasi Maskulin
Rp56.010,00 Rp50.409,00
Catatan Harian Anne Frank
Rp99.000,00 Rp72.918,00
Imaji/Musik/Teks
Rp67.010,00 Rp60.309,00
Jalasutra © 2017 - Designed By Yoocart
View Mobile / Standard