Kebudayaan dan Waktu Senggang*

Kebudayaan dan Waktu Senggang*
Kode Produk: Cultural Studies
Point Reward: 0
Ketersediaan: Out Of Stock
Harga: Rp50.010,00 Rp45.009,00
Tanpa Pajak: Rp45.009,00
Jml:  Beli
   - ATAU -   
Judul : Kebudayaan dan Waktu Senggang
Penulis : Fransiskus Simon
Cetakan : 2008
Tebal : 134 halaman
Penerbit: Jalasutra
Ukuran : 15 x 21 cm
ISBN : 979-3684-95-X
 

Deskripsi:

Istilah waktu senggang hari-hari ini tak banyak berkaitan dengan reflektivitas atau kontemplasi. Waktu senggang kini lebih berkaitan dengan rekreasi. Dan dalam rekreasi itu, orang pergi, ke luar dari diri, menuju perangkap-perangkap eksterior: tempat-tempat wisata, mall, club, negeri-negeri yang asing, dan seterusnya. Dunia manusia pascamodern adalah dunia yang dikelola oleh eksterioritas, dunia informasi, terlebih lagi dunia imaju dan sensasi. Manusia makin jarang dan sulit untuk sungguh bersentuhan denan totalitas dirinya sendiri. Interioroitas diri hanya tampil sebagai implikasi, atau lebih buru lagi, ekses dari medan eksterioritas yang mengepungnya.

Kini, ketika waktu senggang hanya bermakna jeda demi peluang lebih banyak untuk mengonsumsi, sementara kebudayaan dikuasai pengelolaan ilusi, maka dibutuhkan redefinisi waktu senggang sekaligus dekonstruksi terhadap konsep-konsep kebudayaan. Buku yang ada di tangan Anda in bermaksud menggali kembali nilai inspiratif yang penting dan sangat menentukan dari berbagai gagasan pemikir kebudayaan terutama Josef Pieper ihwal “waktu senggang” dan mengintegrasikannya dengan gagasan C.A. van Peursen tentang “strategi kebudayaan”.

Buku ini mengingatkan bahwa kebudayaan bukanlah sekadar barang antik di museum, bukan pula sekadar realitas terberi yang mesti diterima saja, melainkan perlu juga diubah dengan dekonstruksi dan strategi, agar terus berevolusi. Untuk itu kekuatan “waktu senggang” perlu dipikirkan, dikritisi dan dihayati kembali.

 

Daftar Isi

 

Prakata

Riwayat Singkat

Pengantar

Pendahuluan

1.Pelbagai Pemahan Tentang Kebudayaan

Kebudayaan Dalam Pemahaman Para Pemikir Indonesia

Kebudayaan Dalam Pemahaman Para Pemikir Barat

Kemungkinan Lain Membaca Kebudayaan

2.Persoalan Krusial Kebudayaan

Persoalan-Persoalan Intern

Persoalan-Persoalan Ekstern

3. Kemungkinan Paradigma: Tiga Model Kebudayaan

Sekilas Tentang C. A. van Peursen

Model-Model Kebudayaan dari van Peursen

Catatan-Catatan

4. Waktu Senggang sebagai Dasar Kebudayaan

Mengenal Josef Pieper

Reposisi Waktu Senggang menurut Josef Pieper

Pengertian Dasar dan Interlokutor Waktu Senggang

Sifat Waktu Senggang: Perayaan dan Pembebasan

Waktu Senggang Sebagai Kotemplasi

Catatan-catatan

5. Waktu Senggang sebagai Strategi Kebudayaan

Waktu Senggang: “Artes Liberales”

Waktu Senggang: Kritik Kebudayaan

Waktu Senggang: Proses Belajar dan Pemberadaban

Poskrip: Suatu Panggilan Filsafati

Catatan-catatan

Daftar Pustaka

 

Kata Pengantar

Istilah “waktu senggang” hari-hari ini tak banyak berkaitan dengan reflektivitas atau kontemplasi. “Waktu senggang” kini lebih berkaitan dengan rekreasi. Dan dalam rekreasi itu orang pergi, ke luar dari diri, menuju perangkap-perangkap eksterior: tempat-tempat wisata, mall, club, negeri-negeri yang asing, dan seterusnya.

Dunia manusia pascamodern adalah dunia yang dikelola oleh eksterioritas, dunia informasi, terlebih lagi, dunia imaji dan sensasi. Manusia makin jarang dan sulit untuk sungguh bersentuhan den­gan totalitas dirinya sendiri. Interioritas diri hanya tampil sebagai implikasi, atau lebih buruk lagi, “ekses” dari medan eksterioritas yang mengepungnya.

Andai kontemplasi erat berkait dengan pengalaman tentang “yang sublim” (pengalaman eksistensial penting yang menjadi akar makna hidup), maka yang jadi soal bukanlah bahwa dalam kons­telasi kebudayaan mutakhir—beserta pesona eksteriornya itu—yang sublim telah menghilang. Masalahnya hanyalah bahwa yang sublim itu berubah bentuk.

Dahulu dalam masyarakat pramodern, “yang sublim” adalah kedahsyatan alam semesta yang menakutkan sekaligus mempesona, yang memaksa manusia tunduk dan memuja. Dalam masyarakat modern, yang sublim itu adalah batas-batas pemikiran, batas-batas kemampuan analisis dan spekulatif (seperti dibayangkan Immanuel Kant). Kini, dalam budaya imaji audio-visual elektronik agaknya “yang sublim” itu adalah histeria tanpa alasan atas pesona fiksi imaji-imaji itu, keterpesonaan tak terjelaskan terhadap kekuasaan dan kecer­dasan elektronik.

Baudrillard menuding pasar imaji sebagai sekadar tendensi untuk menguasai dan menggoda saja, tanpa makna, tanpa dasar dan tanpa acuan. Bila itu benar, maka yang terjadi dalam pasar global kini hanyalah pemompaan adrenalin tanpa kepuasan, pemancingan kuriositas tanpa pernah mendapatkan, pembentukan keinginan tanpa tujuan. Dalam budaya macam ini memang tak ada tempat bagi kontemplasi dan refleksi atas substansi. Segala energi terserap oleh pesona eksterioritas hasrat dan imaji (kerja, belanja, mengonsumsi, pergi-pergi).

Dalam kebudayaan pramodern, reflektivitas erat berkaitan den­gan spiritualitas. Diri dihayati sebagai bagian dari semesta, sebaliknya semesta pun merasuk ke dalam diri. Maka refleksi adalah dialog batin timbal balik antara semesta dan diri, yang mewujud dalam ritual sebagai interaksi “bermain” tingkat tertinggi. Dalam kebuday­aan modern reflektivitas adalah soal wacana verbal-konseptual. Ia adalah dialog rasional tentang kemungkinan pemahaman diskursif dan batas-batas terakhirnya. Baik reflektivitas spiritual pramodern maupun reflektivitas intelektual modern, yang telah melahirkan pola khas kebudayaan masing-masing, bertumpu pada kesunyian produktif waktu-senggang.

Kini, ketika waktu senggang hanya bermakna “jeda” demi peluang lebih banyak untuk mengonsumsi, sementara kebudayaan dikuasai pengelolaan ilusi, maka dibutuhkan redefinisi “waktu sen­ggang” sekaligus dekonstruksi konsep-konsep kebudayaan. Buku yang ada di tangan Anda ini bermaksud menggali kembali nilai inspiratif yang penting dan sangat menentukan dari gagasan Josef Pieper ihwal “waktu senggang” dan mengintegrasikannya dengan gagasan C.A van Peursen tentang “strategi kebudayaan”. Buku ini mengingatkan bahwa kebudayaan bukanlah sekadar barang antik di museum, bukan pula sekadar realitas terberi yang mesti diterima saja, melainkan perlu juga diubah dengan dekonstruksi dan strategi, agar terus berevolusi. Untuk itu kekuatan “waktu senggang” perlu dipikirkan, dikritisi, dan dihayati kembali.

Bambang Sugiharto

 

Riwayat Singkat

Franciskus Simon, lahir di Tiong Keranjik (Sintang-Kalimantan Barat), 13 Maret 1983. Setelah menamatkan pendidikan Menengah di SMU Panca Setya, Sintang, Kalimantan Barat pada tahun 2000, ia mengenyam pendidikan di Seminari Tinggi Betang Batara, Bandung. Kemudian belajar Filsafat di Fakultas Filsafat Unpar, Bandung dan memperoleh gelar SS pada tahun 2005. Sayangnya, sebelum buku ini terbit, di awal tahun 2006 dia meninggal dalam sebuah kecelakaan

Tulis review

Nama Anda:


Review Anda: Note: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Bagus

Masukkan kode verifikasi berikut:



Bestsellers
Pesan, Tanda, dan Makna
Rp120.010,00 Rp108.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Elemen-elemen Semiologi
Rp58.010,00 Rp52.209,00
Berdasarkan pada 1 review.
Feminist Thought
Rp130.010,00 Rp117.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Dominasi Maskulin
Rp56.010,00 Rp50.409,00
Catatan Harian Anne Frank
Rp81.020,00 Rp72.918,00
Imaji/Musik/Teks
Rp67.010,00 Rp60.309,00
Jalasutra © 2017 - Designed By Yoocart
View Mobile / Standard