Manusia Pengembara

Manusia Pengembara
Kode Produk: Filsafat
Point Reward: 0
Ketersediaan: Out Of Stock
Harga: Rp46.000,00 Rp39.100,00
Tanpa Pajak: Rp39.100,00
Jml:  Beli
   - ATAU -   
 
Judul: Manusia Pengembara
Penulis: Fransiskus Borgias M
Cetakan: I, 2013
Tebal: xvi+156 hlm
Ukuran: 14x21 cm
ISBN: 978-602-8252-82-9
 
Menurut Gabriel Marcel, manusia itu misteri bukan karena sedikitnya kebenaran dan makna yang terpancar darinya, melainkan karena pancaran kebenaran itu sangat banyak dan deras hingga menyilaukan mata. 
 
Buku ini berbicara tentang tujuh pokok misteri manusia. Pertama, mengenai gejala bahasa yang merupakan salah satu kemampuan ajaib manusia. Bahasa erat terkait dengan pemahaman dan komunikasi. Kedua, tentang kerja manusia yang adalah sarana aktualisasi diri pada tataran sosial dan estetis. Ketiga, tentang misteri waktu. Manusia ada dalam waktu; dalam sejarah. Jadi, refleksi tentang waktu adalah refleksi tentang manusia yang menyejarah. Keempat, tentang dinamika kehendak manusia di mana manusia harus menjadi subjek atas kehendaknya sendiri. Bukan sebaliknya: manusia dipermainkan oleh pelbagai macam keinginannya sendiri. Kelima, tentang salah satu wujud hubungan antar manusia yaitu misteri kerinduan yang terdapat dalam struktur dasar cinta. Keenam, tentang gejala pengalaman mistik yang merupakan radikalisasi ke arah yang transenden dari dinamika iman, cinta, kerinduan dan harapan manusia akan Allah. Dan terakhir, misteri tentang fenomena paralelisme batin, yang merupakan salah satu kemampuan ajaib manusia untuk “mereka-reka” gelombang peristiwa masa depan. 
 
Daftar Isi
Pengantar Penulis ~ v
Kata Pengantar
Berenang dengan gaya lumba-lumba ~ vii
Daftar Isi ~ xiii
Pendahuluan ~ 1
Bab 1
Bahasa dan Realitas Perubahan Sosial ~ 7
1.1 Pengantar: Apa Itu Bahasa? ~ 7
1.2 Bahasa dan Realitas Sosial ~ 9
1.3 Kekuatan Logos ~ 12
1.4 Bahasa dan Perubahan Sosial ~ 15
1.5 Revolusi Kata dan Tindakan ~ 19
1.6 Eufemisme Politis sebagai Kontrol Sosial ~ 23
1.7 Bahasa dan Kontrol Sosial ~ 24
1.8 Bahasa dan Partisipasi Sosial ~ 26
1.9 Penutup ~ 27
Bab 2
Kerja dan Waktu Senggang: Esai Reflektif-Personal ~ 29
2.1 Pengantar ~ 29
2.2 Kerja dan Pribadi Manusia~ 31
2.3 Pandangan Kristiani tentang Kerja: Dua Implikasi ~ 34
2.4 Bekerja Secara Manusiawi: Beberapa Implikasi Etis ~ 37
2.5. Sikap Orang Kristiani dalam Kerja: Sebuah Tawaran Etika ~ 43
2.6 Kedudukan Waktu Senggang ~ 45
2.7 Menghindari Burnout ~ 48
2.8 Penutup ~ 50
Bab 3
Manusia dan Waktu ~ 51
3.1 Pengantar ~ 51
3.2 Menatap Masa Depan ~ 52
3.3 Masa Depan Menantang Manusia ~ 54
3.4 Sikap-sikap Menghadapi Hidup ~ 57
3.5 Manusia Menyejarah: Tiga Model Persepsi Sejarah ~ 59
3.5.1 Model Persepsi Siklis ~ 60
3.5.2 Model Persepsi Linear ~ 65
3.5.3 Model Persepsi Spiral ~ 68
3.5.4 Evaluasi ~70
3.6 Penutup ~ 71
Bab 4
Manusia Subjek Kehendak ~ 73
4.1 Pengantar ~ 73
4.2 Manusia Yang Berkehendak Mengalami Godaan ~ 74
4.3 Eligo Ergo Sum ~ 77
4.4 Otonomi Subjektivitas dalam Memilih ~ 79
4.5 Konsumerisme dan Masalah Kehendak~ 81
4.6 Invasi Dahsyat Iklan ~ 82
4.7 Puasa dan Mati Raga: Penyadaran Otonomi Subjek ~ 85
4.8 Belajar Menunda Pemenuhan Kebutuhan ~ 87
4.9 Penutup ~ 89
Bab 5
Filsafat Kerinduan (Antara Aku dan Kau) ~ 91
5.1 Pengantar ~ 91
5.2 Gejala Bahasa yang Unik dan Khas ~ 92
5.3 Kau Kualami sebagai Peristiwa Rahmat ~ 93
5.4 Kau dan Aku Saling Merindu ~ 96
5.5 Hakikat Kerinduan ~ 99
5.6 Rindu itu Abadi ~ 103
5.7 Rindu Pada-Mu Tuhan ~ 105
5.8 Penutup ~ 109
Bab 6
Menelusuri Mistik “Musyawarah Burung” ~ 111
6.1 Pengantar ~ 111
6.2 Mistik sebagai Sebuah Perjalanan ~ 113
6.3 Sekelumit Riwayat Hidup Pengarang ~ 114
6.4 Burung-burung ~ 116
6.5 Perjalanan ~ 119
6.6 Aneka Aral Melintang ~ 121
6.7 Lembah-lembah ~ 123
6.8 Peleburan: Titik Puncak Perjalanan Mistik ~ 126
6.9 Penutup: Mistik Bukan Bagaimana, Melainkan Bahwa… ~ 130
Bab 7
Paralelisme Batin ~ 133
7.1 Pengantar ~ 133
7.2 Beberapa Gejala ~ 134
7.3 Bagaimana Menjelaskan Hal Itu ~ 137
7.4 Riak Gelombang Peristiwa Masa Depan ~ 141
7.5 Penutup ~ 143
Daftar Pustaka Teks dan Alat: ~ 145
Tentang Penulis ~ 151
Indeks ~ 153
 
Kata Pengantar
Berenang dengan gaya lumba-lumba
Al Makin
 
Al Makin (Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan ICRS Gajah Mada, juga Research Fellow di Asia Research Institute, National
University of Singapore)
 
PARA pembaca yang budiman, penulis kita kali ini Fransiskus Borgias, mengajak Anda untuk berkelana berbicara tentang manusia dan kritiknya terhadap yang mengitari makhluk ini. Maksudnya tentu makhluk ini dalam tradisi modern atau postmodern. Buku ini bisa menjadi kawan berenang dan bersenang-senang dalam laut yang tidak terlalu berbahaya, seperti ikan lumba-lumba di laut (dolphin).
 
Yang saya maksud seperti lumba-lumba adalah bagaimana kita mengatur renang kita, sebagai makhluk bangsa mamalia tetapi hidup dan tinggal di air. Masih membutuhkan udara untuk bernapas tetapi suka menyelam di air. Mencari ikan di laut yang tidak terlalu dalam untuk santapan, tetapi juga suka menari.
 
Jika kita mengategorikan buku ini sebagai buku teologi, tentu tidak tepatlah pengamatan kita. Jika buku petunjuk praktis tentang kehidupan tentang bagaimana mengatasi persoalan, buku ini masih sangat erat dengan aneka filosofi plus tradisi religiusitas sang penulis.
 
Maka buku ini santai sekaligus serius. Menyelam di air, tetapi masih bernapas di udara bebas. Seperti lumba-lumba tadi.
 
Menurut pembacaan saya sebagai komentator pertama, buku ini adalah buku tentang manusia modern atau postmodern. Manusia ditekankan sebagai subjek di sini, baik itu tentang imannya, kehidupan modernnya, kehidupan pasar dan juga bagaimana manusia bergelut untuk berkembang. Dengan bahasa yang tidak terlalu berat Anda dibantu untuk mendapatkan dua hal: udara untuk napas dan ikan-ikan bergizi untuk jadi santapan. Dengan bahasa ringan dan populer Anda dapat pengetahuan tentang filsafat dan teologi. Dengan petunjuk yang tidak rumit Anda bisa membuka jendela pengetahuan dari tradisi religius sang penulis, Fransiskus Borgias.
 
Di bab satu misalnya, Pak Frans, begitu saya biasa menyapanya, menukil pemikir Jerman Helmut Peukert yang mengatakan, ‘Manusia bisa mengubah situasinya di dunia justru karena dia adalah makhluk yang berbicara’ (halaman 18). Hal ini menunjukkan kedermawanan Pak Frans untuk berbagi pengetahuan tentang pengamatan kemampuan logos manusia. Kemampuan berkembang dengan modal bahasa.
 
Wujud pengalaman keimanan dan tradisi religiusitas Pak Frans misalnya bisa dilihat di kutipan ini: “Dengan itu manusia memasukkan diri dalam ruang lingkup teologis dan religiusitas. Dengan demikian ‘pengakuan iman’ pada dasarnya adalah praksis (bukan sekadar doxa) dan memiliki daya kekuatannya sendiri jika dia mengombinasikan penuturannya tentang Allah dengan perubahan (perombakan) tatanan sosial yang opresif, represif, dan tidak adil” (halaman 22).
 
Kritik sosial, tentu juga menjadi perhatian penulis dalam hal ini. Dalam kehidupan sosial di Indonesia, misalnya, fenomena pasar telah merebut hati insan religi. Bahkan dakwah agama juga telah masuk dalam perangkap pasar. Ini sangat berharga dari buku ini. Profesi dan karier menjadi perhatian tersendiri dalam kancah manusia terkini di Indonesia. Kita lihat analisis Pak Frans, di bab 2, “Pertama, fenomena yang disebut demam “Agama Sukses.” Masyarakat menciptakan aneka mitos tentang pekerjaan yang pada gilirannya diwartakan dan diindoktrinasikan lagi kepada individu. Mitos itu dibumbui Demam Sukses yang oleh sementara orang dianggap “Agama baru…” Hampir tidak ada pekerja yang tidak ditularinya. Mitos sukses itu dibumbui filosofi elitis: menciptakan elit kaum sukses di bidang karier. Mereka berkata: hanya orang yang paling gesit dan paling berbakat saja yang bisa masuk dalam ritus dan kultus Agama Sukses. Dalam hal ini pun berlaku hukum survival of the fittest itu. Sedikit sekali orang yang tahu bagaimana enaknya hidup dalam lingkup agama sukses itu dan bagaimana tidak enaknya hidup di luarnya.” (halaman 33).
 
Sedangkan pesan utama bisa ditangkap dalam ungkapan ini, “…, kerja dan pekerjaan jangan sampai menjadi berhala. Inilah yang terpenting: bekerja secara manusiawi berarti kerja itu jangan sampai menjadi berhala. Orang jangan memberhalakan pekerjaan. Kerja jangan sampai menjadi sesuatu yang amat menyibukkan dan menyita waktu, perhatian dan tenaga sampai menggeser semua realitas lain, termasuk Allah, dari pusat perputaran hidup” (halaman 40).
 
Di bab tiga saya masih melihat optimisme Pak Frans dalam melihat keadaan. Terutama ketika masa depan manusia menjadi subjek tersendiri dalam analisisnya. Bagi Pak Frans, penyatuan petunjuk populer, teologi dan pengetahuan, telah melahirkan optimisme tersendiri. Berikut buktinya, “… sudah dikatakan juga bahwa hidup itu secara tertentu berarti menantang dan menyongsong masa depan. Setiap manusia pun menghadapi dan menghidupi hidupnya dengan sikap dan pandangan tertentu. Dengan demikian hidup itu menjadi hidupku, dan bukan hidup orang lain. Di sinilah orang mencapai kesadaran yang kurang lebih mendalam tentang makna hidup, kediriannya (individualitas), oleh karena hidup dihidupi (baca: dihayati) sebagai hidupnya sendiri (pribadi). Masa depan adalah medan perwujudan dan aktualisasi diri serta kehidupan manusia. Kegagalan perwujudan dan aktualisasi diri di masa depan, adalah kegagalan hidup itu sendiri.” (halaman 54-55). Ini adalah pesan penting bagi pembaca budiman semua. Ini sebuah pesan optimisme. Bahkan dunia kerja, waktu, teologi, dan juga persoalan dunia bisa mengarah pada optimisme.
 
Semangat postmodernisme bisa juga dilihat di sini. Sejarah, juga kehidupan, tidaklah laju dan linier. Tetapi kompleks. Untuk itu Pak Frans memihak pada, kompleksitas pengulangan: “… bahwa dalam lintasan sejarah ada pelbagai macam repetisi (atau pengulangan), tetapi berdasarkan pengulangan itu dibangun sesuatu yang sama sekali baru dan lain, yang terarah menuju ke akhir atau tujuan tertentu. Sejarah dipahami sebagai bergerak melalui tahap-tahap perkembangan tertentu.” Dalam hal ini, Pak Frans juga memberi peringatan bahwa, “Kontradiksi-kontradiksi itu menimbulkan tahap sejarah yang sama sekali baru. Boleh dikatakan bahwa kontradiksi itu bersifat dialektis-dinamis dan sejarah pun dipahami sebagai berjalan dan berkembang secara dialektis” (halaman 68 ).
 
Sebagai seorang yang berasal dari tradisi Muslim, sementara sang penulis buku ini berasal dari tradisi Kristiani, saya sangat mengapresiasi kritik Pak Frans tentang puasa dan tradisi pasar, yang tampaknya tertuju secara halus untuk tradisi Islami. Ketika puasa tiba, arti puasa itu sendiri kadang diabaikan, tetapi semua tenggelam dalam budaya iklan. Ini bisa juga dilihat, bagaimana Pak Frans secara halus menyindir ini. Beragama, berdagang, dan beriklan telah mendominasi puasa. “Salah satu gejala dunia modern kita dewasa ini adalah gejala merebak secara sangat dahsyatnya fenomena periklanan. Sedemikian dahsyatnya iklan itu sampai-sampai dunia periklanan pun menjadi aktivitas ekonomis dan bisnis tersendiri yang sangat menggiurkan dan menjanjikan keuntungan ekonomis yang luar biasa besarnya. Iklan, baik proses maupun produknya (yang ditayangkan, dipancarkan, dan dipublikasikan melalui media cetak dan media elektronik) kini menjadi komoditas unggulan dalam ekonomi dan bisnis. Sedemikian kuatnya “otonomi” komoditas iklan ini sampai-sampai dia menjadi faktor penentu “marketable” tidaknya satu produk baru. Maka kreativitas manusia di sini telah mengalami pergeseran: dari kreativitas mencipta barang, menjadi kreativitas mengiklankan barang.” (halaman 82).
 
Menurut Pak Frans, puasa itu hendaknya identik dengan mati raga, yang banyak juga dijumpai dari pelbagai tradisi lokal di tanah air. Pak Frans dalam buku ini berusaha mengapresiasi tradisi sufisme, perjalanan burung sufisme, dan juga tradisi religiusitas Kristiani. Ini juga kritik penting terhadap puasa, dan tirakat, yang ada pada semua agama. “Menurut hemat saya puasa dan mati raga adalah sarana atau jalan penyadaran otonomi dan transendensi manusia sebagai subjek kehendak. Dengan dan melalui puasa (mati raga) manusia merealisasikan otonomi subjektivitasnya. Dengan berpuasa manusia mengambil jarak objektif kritis terhadap pelbagai macam objek kehendaknya dan dengan itu ia mentransendensi dirinya, tidak hanya terhanyut dalam daya tarik imanentis dari benda-benda material. Dengan dan dalam berpuasa (bermatiraga), manusia secara real dan konkret berhadapan dengan banyak tantangan dan pilihan sekaligus. Tetapi justru ‘penghadapan’ (konfrontasi=berhadapan) itulah yang merupakan medan manusia sebagai subjek untuk mewujudkan subjektivitasnya sebagai makhluk yang berkehendak. Di medan itulah manusia ditantang untuk mewujudkan otonomi dan transendensi subjektivitasnya.” (halaman 86).
 
Dengan begitu, membaca buku ini adalah berenang dengan gaya lumba-lumba. Menyelam sebentar, bernapas sebentar, sambil menangkap ikan. Tradisi, pengetahuan, teramu dengan persoalan populer dan bahasa populer pula.

 

Tulis review

Nama Anda:


Review Anda: Note: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Bagus

Masukkan kode verifikasi berikut:



Bestsellers
Pesan, Tanda, dan Makna
Rp120.010,00 Rp108.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Elemen-elemen Semiologi
Rp58.010,00 Rp52.209,00
Berdasarkan pada 1 review.
Feminist Thought
Rp130.010,00 Rp117.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Dominasi Maskulin
Rp56.010,00 Rp50.409,00
Catatan Harian Anne Frank
Rp81.020,00 Rp72.918,00
Imaji/Musik/Teks
Rp67.010,00 Rp60.309,00
Jalasutra © 2017 - Designed By Yoocart
View Mobile / Standard