Saussure untuk Sastra: Sebuah Metode Kritik Sastra Struktural

Saussure untuk Sastra: Sebuah Metode Kritik Sastra Struktural
Kode Produk: Kritik Sastra
Point Reward: 0
Ketersediaan: Out Of Stock
Harga: Rp39.100,00 Rp33.235,00
Tanpa Pajak: Rp33.235,00
Jml:  Beli
   - ATAU -   
 
Penulis : Rh Widada
Cetakan : 2009
Tebal : 106 halaman
Ukuran : 15 x 21 cm
ISBN : 978-602-8252-20-1
 
 
Deskripsi:
Buku ini merupakan sebuah upaya membangun titian metodis dalam kritik sastra (struktural) di tengah keruwetan teoritik semacam itu. Dengan mengambil inspirasi secara langsung dari teori linguistik Ferdinand de Saussure yang merupakan cikal bakal strukturalisme, metode kritik sastra yang ditawarkan buku ini diharapkan akan benar-benar memperlihatkan keistimewaan pemikiran struktural yang memang telah memberikan sumbangan besar dalam hal metode penafsiran kebudayaan.
 
 

Daftar Isi

Tentang Penulis ~ v

Pengantar Dr. Faruk HT ~ vii

Bab 1 Dibutuhkan: Metode Kritik Sastra ~ 1

A. Problematika Pendekatan Terhadap Sastra ~ 2

B. Bahasa sebagai Awal Mula ~ 9

Bab 2 Linguistik Warisan Saussure ~ 13

A. Bahasa sebagai Fakta Sosial ~ 14

B. Bahasa sebagai Langue dan Parole ~ 16

C. Bahasa sebagai Sistem Tanda ~ 17

D. Hubungan Antartanda: Paradigmatik dan Sintagmatik ~ 20

E. Relasi Antartanda sebagai Pembangun Kebernilaian Tanda ~ 22

F. Pendekatan Sinkronis dan Diakronis ~ 24

Bab 3 Strukturalisme dan Sejumlah Kerancuan ~ 25

A. Strukturalisme dalam Kritik Sastra Indonesia ~ 26

B. Beberapa Asumsi dan Pokok Gagasan Strukturalisme ~ 30

Bab 4 Bagaimana Memulai Kritik Sastra? ~ 35

A. Garis Besar Menafsir Karya Sastra ~ 37

Bab 5 Langkah-langkah Pendahuluan ~ 41

A. Membaca dengan Cermat ~ 41

B. Mencatat Kesan-kesan Pembacaan ~ 42

C. Mengklarifikasikan Kesan-kesan Pembacaan ~ 45

Bab 6 Langkah-langkah Penafsiran 49

A. Identifikasi Pasangan-pasangan Oposisi Biner dalam Narasi ~ 51

B. Menemukan Pandangan Dunia di Balik Relasi Oposisi Biner ~ 56

C. Meninjau Keseluruhan Unsur-unsur Struktur Narasi dengan Nalar Narasi ~ 58

D. Melihat Kemungkinan Rujukan pada Sumber-sumber Makna Sosio-Kultural ~ 60

Bab 7 Karya Sastra sebagai Sistem Tanda Kedua dan Masalah Penafsiran ~ 61

A. Bahasa Sastra dalam Teori Mitos Roland Barthes ~ 62

B. Menafsirkan Mitos ~ 64

Bab 8 Don Juan, Don Quixote adalah Aku: Analisis Struktural Roman Negeri Senja ~ 71

A. Sinopsis sebagai Abstraksi Paparan Sintagmatis ~ 71

B. Sinopsis Roman Negeri Senja ~ 71

C. Pandangan Dunia dalam Narasi Negeri Senja ~ 73

D. Meninggalkan Kenyataan, Menuju Dunia Sempurna ~ 85

E. Pandangan Dunia dalam Negeri Senja dan Romantisisme ~ 86

F. Negeri Senja sebagai Mitos Romantik ~ 87

G. Negeri Senja sebagai Metabahasa di Atas Mitos Romantik ~ 88

H. Tafsir Mitos di atas Mitos ~ 95

Bab 9 Catatan Penutup ~ 99

Daftar Pustaka ~ 103

Indeks ~ 105

 

 

Kata Pengantar

Menulis Teori di Tengah Tradisi Lisan

Dr. Faruk HT

Linguistik modern yang dipelopori Ferdinand de Saussure, dengan teorinya mengenai kearbitreran tanda bahasa, telah menumbuhkan pelbagai pandangan baru, bukan saja perihal pemahaman mengenai karya sastra, melainkan juga pemahaman mengenai pelbagai aspek kehidupan, termasuk apa yang disebut dengan realitas. Dalam pandangan baru ini, aktivitas pemahaman dipercaya tidak pernah bebas dari sikap apriori, prasangka, dan seperangkat cara pemahaman yang sudah ada dalam pikiran subjek yang memahami. Dengan kata lain, pandangan baru ini menyangkal sama sekali kemungkinan adanya pemahaman yang bersifat spontan, bersih dari pelbagai bentuk prasangka.

Teori pada dasarnya suatu prasangka pula, seperangkat cara berpikir dan cara pemahaman yang digunakan orang dalam memahami suatu kenyataan, dalam mengonstruksi dunia pengalaman. Namun, ada perbedaan yang cukup mendasar antara teori dengan prasangka pada umumnya, yang kemudian ini cenderung bersifat implisit dan bahkan tidak selalu disadari oleh subjek yang melakukan pemahaman, sedangkan teori merupakan seperangkat gagasan yang eksplisit, yang dirumuskan secara relatif lugas, sistematik, dengan sekaligus kesadaran akan alasan-alasan penggunaannya.

Dengan karakteristik serupa itu, setidaknya ada dua hal yang diimplikasikan oleh teori. Pertama, prasangkanya menjadi relatif stabil, membentuk satu perangkat gagasan dengan tingkat koherensi logika yang relatif tinggi, bebas dari perubahan suasana hati subjek bersangkutan yang biasanya labil, mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Kedua, prasangka itu juga menjadi terbuka, dapat dikomunikasikan dan disimak oleh orang lain, sehingga dapat pula dikontrol dan membentuk sebuah kultur dialogis dan/atau diskursif yang bermuara pada pengayaan dan peningkatan kualitas pemahaman itu sendiri.

Tentu, teori sendiri bukan hanya berkedudukan sebagai seperangkat gagasan yang digunakan untuk memandu pemahaman, melainkan dapat pula menjadi objek pemahaman itu sendiri. Dalam hal ini, kemungkinan adanya prasangka dalam pemahaman terhadap suatu teori pun menjadi hal yang tidak terelakkan. Masyarakat dengan dasar budaya lisan yang kuat dan yang karenanya cenderung bekerja secara intuitif, mengikuti naluri yang terbentuk secara tradisional, melakukan pengulangan yang terus-menerus terhadap teori yang pada dasarnya bersifat reflektif dan berbasis budaya tulis. Karenanya, teori cenderung dipahami bukan sebagai sesuatu yang transitif, melainkan intransitif, yakni bukan sebagai sesuatu yang menunjuk dan memandu kepada kenyataan, melainkan kenyataan sendiri. Teori diperlakukan lebih sebagai semacam mantra atau kekuatan magis yang membentuk kenyataan.

Dengan kecenderungan yang demikian, dalam pandangan masyarakat lisan, penanda menjadi kehilangan petanda yang menjadi acuannya, justru dapat bergerak bebas, berkombinasi dengan penanda-penanda lain yang acuan asalnya dapat sangat berbeda dan bahkan secara logis bertentangan. Kecenderungan demikianlah yang sering terjadi dalam dunia akademik Indonesia, yang di dalamnya teori benar-benar menjadi semacam mantera. Dasar budaya lisan yang seperti itu pula yang membuat teori, di Indonesia, juga kehilangan petandanya, hubungannya dengan kenyataan; teori menjadi sesuatu yang eksistensinya berhenti hanya sebagai seperangkat pernyataan simbolik yang abstrak, yang tidak digunakan sebagai pemandu bagi pemahaman mengenai kenyataan.

Bila demikian halnya, buku Rh. Widada ini menjadi salah satu usaha untuk keluar dari kecenderungan menempatkan teori sekadar sebagai pernyataan simbolik dan/atau mantra di atas. Ia berusaha untuk menjadikan teori benar-benar sebagai pedoman bagi pemahaman mengenai kenyataan. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang cenderung lebih menyukai pernyataan-pernyataan simbolik yang abstrak, mantra-mantra, tentu usaha itu dapat menghadapkan penulis buku ini pada tantangan yang sangat berat, baik secara subjektif maupun objektif. Secara subjektif penulis buku ini sendiri harus dapat membebaskan dirinya dari budaya lisan itu, sedangkan secara objektif buku ini bisa menjadi susah mendapat penerimaan dari pembacanya, akan dianggap membosankan karena terlampau teknis.

Ketika di Indonesia, terbentuknya budaya tulis tidak hanya mendapatkan ancaman dari budaya lisan yang sudah ada sebelumnya, yakni budaya lisan yang disebut primer, melainkan juga budaya media massa audio-visual (elektronik) yang disebut sebagai budaya lisan kedua (secondary orality), apa yang diusahakan dalam buku ini tentu merupakan sebuah usaha yang, menurut saya, heroik, yaitu berusaha meneruskan sebuah bangunan budaya yang tidak hanya prematur, melainkan bahkan sekarat.[]

29 Januari 2006

 

Tentang Penulis

Rahmad Widada atau Rh. Widada; terlahir pada 26 Agustus 1972 di Bantul, Yogyakarta; menempuh studi pada Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, lulus pada tahun 1999. Pernah bekerja selama kurang lebih empat tahun (Desember 1999-Maret 2004) sebagai editor pada Penerbit Bentang Budaya. Tulisan-tulisannya yang berupa esai, resensi buku, dan cerpen pernah dimuat di mingguan Minggu PagiKOMPAS (Anak)BernasThe Jakarta Post, dan juga majalah perbukuan MATABACA. Semasa mahasiswa dia pernah menjadi Finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Bidang Seni Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdikbud tahun 1997; pada tahun 2005, meraih Juara III Lomba Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2005, Juara Harapan I Lomba Penulisan Novel Warna Lokal Bantul 2005; kini bekerja sebagai penulis dan editor lepas, bisa dihubungi di er_widada@yahoo.co.id.

 

Tulis review

Nama Anda:


Review Anda: Note: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Bagus

Masukkan kode verifikasi berikut:



Bestsellers
Pesan, Tanda, dan Makna
Rp120.010,00 Rp108.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Elemen-elemen Semiologi
Rp58.010,00 Rp52.209,00
Berdasarkan pada 1 review.
Feminist Thought
Rp130.010,00 Rp117.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Dominasi Maskulin
Rp56.010,00 Rp50.409,00
Catatan Harian Anne Frank
Rp81.020,00 Rp72.918,00
Imaji/Musik/Teks
Rp67.010,00 Rp60.309,00
Jalasutra © 2017 - Designed By Yoocart
View Mobile / Standard