Sepatu Emas buat Inang

Sepatu Emas buat Inang
Kode Produk: Sastra
Point Reward: 0
Ketersediaan: Tersedia
Harga: Rp85.000,00 Rp76.500,00
Tanpa Pajak: Rp76.500,00
Jml:  Beli
   - ATAU -   
SEPATU EMAS BUAT INANG
Sepenggal Kehidupan di Siborong-borong 1983-1985
Magdalena Sitorus
Cetakan I, 2014
xxiv + 228 hlm; 14 x 21 cm
ISBN: 978-602-8252-97-3

 

Sinopsis

“Kurun waktu dua tahun di Siborong-borong memberikan warna tersendiri dalam kehidupanku. Setelah lepas dua tahun tersebut, aku bisa merenungkan kembali. Dari ajakan Asmara untuk tinggal Siborong-borong selama dua tahun, hebohnya persiapan, suka-duka mendampingi Inang, kegiatan dengan KSPH (Kelompok Studi Penyadaran Hukum) bersama Asmara mendampingi korban Indo Rayon, pengalaman anak-anak, pengalaman kebersamaan dengan orang-orang sana dan shock culture, semua itu memberikan warna yang indah.

Anak-anak jadi mengenal tanah kelahiran ayahnya, ompung-nya, dan keluarga besar. Tumbuh rasa bahwa mereka adalah keturunan orang yang dilahirkan di Siborong-borong. Kecintaan terhadap Siborong-borong pun mulai tumbuh. Mereka sadar bahwa di sana ada rumah ompung-nya.

Dan saat catatan panjang ini bisa kubagi dan dibaca banyak orang, inilah persembahan ‘sepatu emas’ kami. Inilah kumpulan ‘sepatu emas’ kami. Kami berharap semoga siapa pun yang ikut membaca catatan harian ini bisa mendapat ‘sepatu emas’ yang lain, berupa inspirasi atau pembelajaran ...”

 

ENDORSEMENTS

“Buku yang diolah dari catatan harian penulisnya, merupakan sebuah cerita tentang kecintaan anak kepada ibunya dan kesetiaan  istri kepada suami dan ibu mertuanya. Pembaca juga dibawa kepada situasi desa Siborong-borong dengan seluruh kompleksitas adat mereka dan bagaimana penulis, yang meskipun berasal dari suku Batak juga namun karena dibesarkan di Jakarta, harus bernegosiasi dengan adat dan kebiasaan keluarga suami yang tak begitu dikenalnya. Sebuah buku yang menarik terutama bagi mereka yang ingin mengetahui aspek-aspek lain dalam kehidupan dan kekerabatan orang Batak khususnya di Siborong-borong, yang menjadi setting cerita dalam buku ini, sekaligus mengenal lebih jauh tentang sisi-sisi sehari-hari  kehidupan pribadi Asmara Nababan dan Magdalena Sitorus, dua orang yang kita kenal banyak terlibat dalam perjuangan hak asasi manusia.”                                                                                                                      

Nursyahbani Katjasungkana ~ Koordinator Nasional  APIK 

 

“Pada era globalisasi yang serba instan dan terancang, penuh iming-iming untuk berkelana ke manca negara, Magdalena Sitorus berkisah tentang pengalamannya pulang kampung bersama suami dan anak-anaknya demi janji mulia seorang anak kepada ibunya. Buku ini menggambarkan sebuah episode dalam kehidupan Magdalena, aktivis senior hak-hak perempuan dan anak yang juga seorang istri, ibu dan anak menantu, yang meninggalkan Jakarta untuk menemani dan merawat ibu mertuanya – ibunda dari Asmara Nababan – di Siborong-borong, Sumatera Utara. Kisah ini membumikan konsep hak asasi manusia dalam keseharian yang kaya dinamika dan sebagai sumber etika kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.”

Kamala Chandrakirana ~ mantan ketua Komnas Perempuan

 

"Magdalena Sitorus berjuang buat hak perempuan dan anak. Ceritanya dari Batak hingga Indonesia."

Andreas Harsono ~ Yayasan Pantau

 

Prakata Penulis

Ada kekhawatiran bila rangkaian catatan harian yang terdiri dari dua buku tulis dengan tulisan tangan dalam kurun waktu 1983-1985 di Siborong-borong, kalau sampai tidak ditulis kembali, nanti akan hilang begitu saja, sementara pengalaman di Siborong-borong adalah hal yang sangat berharga dalam kehidupanku.

Masa di Siborong-borong menjadi salah satu penggalan kehidupanku yang tak ternilai bersama Asmara dan anak-anak; khususnya karena ini adalah momen ketika aku mendampingi Inang, mertuaku yang sedang sakit, ibu tercinta Asmara, dan ompung anakanak. Pengalaman lain yang mewarnai hari-hariku adalah melihat dan mengamati aktivitas Asmara di KSPPM, juga aspek sosial, ekonomi dan budaya dari pelbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat di sekitar kami. Aku tidak ingin kehilangan kenangan ini. Aku juga tidak ingin kenangan ini terpatri dalam pikiranku semata. Aku ingin kenangan ini dapat dituangkan dalam tulisan yang kiranya dapat menjadi bahan berbagi dengan orang lain.

Dalam buku harianku ada catatan yang cukup lengkap, apalagi kalau berkaitan dengan peristiwa yang sangat berkesan, apakah itu sesuatu yang menggembirakan ataupun sebaliknya. Meski ada juga catatan yang terlalu singkat, tapi untungnya tetap mencantumkan nama-nama. Yang seperti ini, aku harus benar-benar mengasah ingatanku kembali.

Aku mencoba merangkainya (dari satu bagian ke bagian yang lain) dan menjalinnya menjadi satu bentuk kisah yang bersumber dari buku harianku. Keinginan ini sudah begitu lama ingin kuwujudkan, bertahun-tahun sebelum kepergian Asmara. Sayangnya, karena padatnya aktivitas juga kendala-kendala lainnya, termasuk yang berkaitan dengan spirit dan rasa, baru dapat kulakukan saat ini. Merupakan kebahagiaan bagiku saat setiap kenangan yang begitu berharga, yang tak akan pernah pupus ini diabadikan dalam sebuah buku.

Aku pun menyadari dengan tulus, catatan panjang ini tak lepas dari sumbangan dan dukungan sosok-sosok yang kukasihi, keluarga besar, kerabat dan handai taulan. Terima kasih secara khusus bagi Asmara yang menjadi suamiku hingga kurun waktu menjelang tahun yang ke-37. Meskipun ia telah tiada, aku tetap ingin mengucapkan terima kasih yang teramat sangat, karena ia pernah membawaku dalam kehidupan di Siborong-borong. Meski banyak pergumulan, namun menjadi kenangan abadi yang dapat kutorehkan.

Terima kasih untuk anak-anakku tercinta yang turut mewarnai kenangan dan kisah di Siborong-borong ini. Terima kasih pada Bapak Soritua Nababan yang membantu memberikan penjelasan yang mendalam untuk melengkapi buku ini dan Pdt. Nelson Siregar atas kesediaannya memberikan kata pengantar. Aku juga berterima kasih pada Catharina Puramdari yang menjadi editor buku ini sebelum masuk ke penerbit. Ia telah memberi kebahagiaan tersendiri, terutama ketika membahas draft naskah yang aku buat—membahasnya bersama dalam rangkaian pertemuan-pertemuan—yang juga menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri. Catharina bisa membuatku menertawakan diri sendiri sebagai pengakuan dari keterbatasan diri. Kesemuanya itu kupikir karena ada chemistry yang cocok dan kuat di antara kami.

 

Terima kasih kepada KSPPM yang bersedia ikut ambil bagian untuk peluncuran dalam rangka ulang tahun KSPPM yang ke-30 di mana Asmara pernah berperan dalam membidani lahirnya KSPPM di tahun 1984. Dan kepada Mbak Suryati Simanjuntak atas ‘Sekapur Sirih’ untuk buku ini. Terima kasih kepada Penerbit Jalasutra yang telah bersedia menerbitkan buku ini.

Lebih dari itu, aku ingin mengucap rasa syukur yang mendalam pada Tuhan yang mengizinkan buku ini dapat diselesaikan dengan segala keterbatasan kemampuanku. Diterbitkan atau tidak sebenarnya adalah persoalan lain, karena yang penting buku ini akhirnya dapat kurampungkan. Dan ketika akhirnya buku ini diterbitkan, sungguh ini menjadi karunia tersendiri bagiku.

Ya, dari semua kisah dalam buku harianku, apa pun itu, aku jadi bisa menemukan makna penggalan kehidupan dari keseluruhannya sebagai rentetan peristiwa yang saling terkait. Semua ini adalah berkat Tuhan yang sungguh-sungguh bermakna. Lagi-lagi, hanya ucapan terima kasih dan syukur yang dapat kuluapkan dari hati yang paling dalam.

Wassalam.[]

Jakarta, Desember 2013

Magdalena Sitorus

 

Tentang Penulis

Magdalena Sitorus adalah mantan komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia untuk periode 2004-2007 dan 2007-2010 dan mantan Direktur Eksekutif Solidaritas Aksi Korban Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan (SIKAP) periode 1995-2004. Saat ini masih aktif sebagai Ketua Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) yang digelutinya sejak tahun 2002 serta terlibat dalam berbagai jaringan dalam isu hak anak dan perempuan. Ia pun mengajar di Fakultas Hukum UKI, Jakarta. Salah satu pengurus Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB) dan penatua Gereja HKBP Kebayoran Baru. Sepatu Emas buat Inang ini adalah karya ketiganya yang telah diterbitkan setelah sebelumnya menulis Semua Ada Waktunya (2012) dan sebuah novel berjudul Daun Putri Malu (2013).[]

Tulis review

Nama Anda:


Review Anda: Note: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Bagus

Masukkan kode verifikasi berikut:



Bestsellers
Pesan, Tanda, dan Makna
Rp120.010,00 Rp108.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Elemen-elemen Semiologi
Rp58.010,00 Rp52.209,00
Berdasarkan pada 1 review.
Feminist Thought
Rp130.010,00 Rp117.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Dominasi Maskulin
Rp56.010,00 Rp50.409,00
Catatan Harian Anne Frank
Rp99.000,00 Rp72.918,00
Imaji/Musik/Teks
Rp67.010,00 Rp60.309,00
Jalasutra © 2017 - Designed By Yoocart
View Mobile / Standard