Mantra Maira

Mantra Maira
Kode Produk: Sastra
Point Reward: 0
Ketersediaan: Tersedia
Harga: Rp30.000,00
Tanpa Pajak: Rp30.000,00
Jml:  Beli
   - ATAU -   
 
Judul: Mantra Maira 
Penulis: Sofie Dewayani
Cetakan: Pertama, Januari 2010
Kategori: Sastra
Divisi: Jalasutra 
Halaman: xxiv + 108 hlm
Ukuran: 12 x 19 cm
ISBN: 978-602-8252-27-0
 
 
Sejumlah cerita yang terbuhul dalam kumpulan Mantra Maira ini mengingatkan kita pada gagasan-gagasan Hanif Khureisi—novelis Inggris, berdarah Pakistan—baik dalam Buddha of Suburbia maupun Midnight All Day. Lewat cerpen Mantra Maira, misalnya, dengan kepolosan dunia anak-anak, pengarang memperlihatkan ketakmujuran peruntungan manusia urban Amerika asal Indonesia.
 
Maira tumbuh di lingkungan yang membuat ia harus tampil bermuka dua. Ketika neneknya datang dari Indonesia, ia harus pandai-pandai bersandiwara, bahwa ibunya bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan penghasilan memadai, padahal kenyataannya, perempuan yang ia panggil ibu itu adalah seorang pekerja ilegal yang tak pernah berada dalam posisi aman, pemabuk berat, dan selalu ribut dengan pacar gelapnya. Itu sebabnya, Maira—yang tak pernah tahu siapa ayahnya—terobsesi untuk menggunakan mantra ajaib guna mencelakai ibunya.
 
Dengan keterampilan berkisah dan teknik eksperimentasi tingkat tinggi, Sofie Dewayani menyuguhkan konstruksi alegorik dari kompleksitas persoalan para perantau asal Indonesia di Amerika Serikat, yang di permukaan kedengarannya begitu gagah mentereng, padahal sebagian besar dari mereka, tak lebih dari segolongan orang yang terus-menerus berminyak air.
 
 

Pengantar Penulis

Konon, seekor Beruang bertanya kepada Yahweh tentang bagaimana bahasa tercipta. Yahweh berkata, “Oh, anak-anak yang menciptakannya. Mereka hanya bermain-main di luar sana, lalu bahasa tercipta begitu saja. Mereka pulang, mempersembahkan bahasa kepada orangtua mereka, dan berkata, ‘Ini yang ingin Engkau ucapkan sejak lama.’”

“Jadi, bahasa adalah permainan anak-anak,” renung Beruang itu (Mamaday, 1999). Bahasa adalah permainan anak-anak. Menurut Scott Mamaday, seorang penyair Indian, jauh sebelum manusia mengenal aksara, manusia sudah bermain dengan bahasa. Dalam dunia yang mulai beranjak renta ini, manusia menumbuhkan peradaban dengan menemukan beragam instrumen untuk bermain bahasa. Membaca dan menulis adalah bagian dari instrumen berbahasa yang kaya.

Bermain bahasa mungkin adalah permainan paling serius. Sebagaimana bermain merupakan tonggak perkembangan kecerdasan anak, bagi Jack Goody, permainan dengan aksara pun menunjukkan bahwa kecerdasan kognitif manusia berevolusi. Goody berkilah bahwa sistem tulisan, misalnya, adalah teknologi akal yang mumpuni. Perkembangan sistem aksara—dari simbol yang mewakili kata, bunyi, hingga unit terkecil alfabetik—di dunia kontemporer ini menunjukkan kemampuan manusia untuk mengabstraksi dan mengategorikan bunyi. Tulisan berbasis alfabetik, kata Goody, adalah pembaruan “akal purba,” seperti yang ditemukan pada sistem tulisan Mesir kuno yang logografik.

Maka, apa artinya menjadi melek aksara? Walter Ong mengamini Goody bahwa bisa membaca tak hanya bermakna merapal aksara, namun juga mampu mengabstraksi, memilah, dan menganalisis informasi. Dengan mengusung The Great Divide, Ong berujar bahwa menulis adalah teknologi yang menstrukturkan pikiran dan menggiring budaya lisan ke wilayah yang lebih personal. Budaya lisan memungkinkan produksi ide secara komunal. Budaya lisan cenderung deskriptif, namun tak terlalu reflektif. Literasi, di sisi lain, meleburkan batas antara teks dan individu dengan menghadirkan ruang berpikir kritis. Literasi adalah kegiatan “profan” karena menggugat kebenaran tunggal, namun sekaligus sakral, karena membedah apa makna kebenaran.

Kontradiksi itu tentu tak sederhana. Peradaban bukanlah etalase yang memajang budaya sebagai benda-benda diam yang beragam, namun terasing dari percakapan. Brian Street berpendapat bahwa literasi dan budaya lisan tumbuh dalam dialog dan selalu berkelindan. Literasi selalu dihasilkan dalam konteks budaya lisan dan merupakan tradisi unik yang memiliki makna dalam konteks budaya lokal. Menulis dan membaca adalah kegiatan kultural yang menempatkan teks dengan ragam fungsi: fungsi sosial, estetik, juga spiritual.

Pada tahun 1983, Shirley Brice Heath menerbitkan penelitian yang menyentakkan khalayak tentang keragaman makna membaca dan fungsi teks dalam konteks budaya. Buku berjudul Ways with Words itu dipicu oleh keingintahuan yang sederhana: Mengapa anak-anak berkulit hitam gagal di sekolah? Heath menyimpulkan bahwa sekolah hanya mengakomodasi tradisi membaca kalangan tertentu saja. Di Piedmont, South Carolina, Heath menemukan bahwa teks dibaca dengan cara yang sama sekali berbeda. Membaca, di kalangan masyarakat kulit putih di sana, merupakan kegiatan yang personal. Mereka membaca di ruang sunyi, terpisah dari lalu-lalang orang dan lintas perdebatan. Komunitas menghargai membaca sebagai kegiatan sekolah. Orangtua memastikan bahwa anak mencintai buku sebelum usia sekolah dan menanyai anak-anak dengan pertanyaan yang sepadan dengan diskursus sekolah. Di kalangan masyarakat berkulit hitam, teks hidup dalam dialog. Membaca mengundang perdebatan, canda-tawa, bahkan olok-olok. Membaca di tempat sepi dianggap sebagai alienasi. Anak mengenal literasi bukan dari buku-buku, melainkan dari iklan di televisi, kotak sereal atau bungkus susu. Masalahnya, kata Heath, anak-anak berkulit hitam ini bukannya tak memiliki kesiapan literasi. Yang terlalu arogan adalah paradigma sekolah. Sekolah tak pernah menganggap tradisi membaca di masyarakat kulit hitam sebagai potensi yang bisa menjadi batu lompatan untuk mengembangkan metode belajar, namun sebagai kemunduran yang harus mengalah.

Membaca bukan hak prerogatif kelas menengah, seru Heath. Membaca adalah partisipasi budaya—secara individual atau komunal—untuk memberi makna pada teks dan paradigma. Seruan ini disambut oleh beragam studi etnografi di pascatahun 90-an yang meneliti fungsi dan makna teks dalam komunitas yang berbeda. Berbagai temuan diteriakkan dari banyak penjuru bumi selantang bunyi Eureka! Studi-studi itu memaklumi literasi skriptural yang berpusat pada otoritas kitab suci. Di desa-desa terpencil, masyarakat bertahan hidup dengan literasi fungsional, yaitu kemampuan dasar berhitung dan membaca untuk menunjang urusan bertani dan berdagang sederhana. Di era teknologi ini, literasi digital bahkan konon menumbuhkan kecerdasan unik untuk memilah informasi yang tumpah-ruah.

Di luar penerimaan terhadap keragaman itu, yang tak terelakkan di era posmodern ini tentu adalah tema ideologis menyangkut promotor, institusi, dan isu kekuasaan dalam kampanye literasi. Siapa yang menentukan definisi dan “standar” literasi dalam masyarakat? Apa yang menentukan “sukses” gerakan literasi dan apa dampak gerakan literasi dalam skala makro terhadap identitas individu? Bagaimana literasi, sebagai sebuah wacana kontemporer, dapat diterima atau bersentuhan dengan nilai-nilai kultural masa lalu? Buku mungkin telah menjadi tonggak terpenting di peradaban literasi ini. Namun, sesungguhnya yang juga bertransformasi secara konstan adalah bagaimana manusia memaknai kegiatan membaca.

Buku ini tentu tak bermaksud untuk merangkum literasi sebagai sebuah konstruksi budaya. Cerita-cerita di sini hanya menyajikan serpihan-serpihan singkat mengenai kegiatan manusia yang sesungguhnya amat purba: membaca. Para tokoh dalam kisah-kisah ini berinteraksi, berdialog, dan menghidupkan teks-teks religius, teks budaya, baik lisan, tertulis, atau digital—dengan pemaknaan yang sesuai dengan pengalaman historis mereka. Di sini, teks hadir sebagai saksi sejarah, teman berkisah, atau latar kejadian yang terkadang samar terkadang transparan. Sebab, pada masa ketika roda perubahan melaju begitu kencang, teks menyediakan media untuk menyimpan dan mengendapkan apa saja yang tertinggal.

Teks, juga literasi, dengan demikian, tidak tereduksi menjadi lembar-lembar kertas yang melulu memuat aksara, tetapi juga media untuk memahami, dan membaca diri, sejarah, dan budaya kita. Karena untuk itulah kiranya permainan dengan bahasa itu tercipta.

Maka, selamat membaca!

Urbana, 4 Agustus 2009

Sofie Dewayani

 

Tentang Penulis

Sofie Dewayani menulis apa saja: cerpen, buku anak, paper kelas, proposal disertasi, surat untuk guru anaknya di sekolah, hingga catatan belanja. Selain beberapa kali menjuarai lomba cerpen dan cerber Femina, cerpen Sofie bisa dinikmati di Koran Tempo dan Republika. Beberapa artikelnya dimuat The Jakarta Post, Republika, dan Kompas.

Saat ini, Sofie sedang menyelesaikan program doktoral dengan fokus pendidikan literasi di University of Illinois di Urbana-Champaign. Saat musim dingin yang garang mengepung Urbana, Sofie menikmati menonton basket di televisi dengan ketiga anaknya.[]

 

Tulis review

Nama Anda:


Review Anda: Note: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Bagus

Masukkan kode verifikasi berikut:



Bestsellers
Pesan, Tanda, dan Makna
Rp120.010,00 Rp108.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Elemen-elemen Semiologi
Rp58.010,00 Rp52.209,00
Berdasarkan pada 1 review.
Feminist Thought
Rp130.010,00 Rp117.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Dominasi Maskulin
Rp56.010,00 Rp50.409,00
Catatan Harian Anne Frank
Rp81.020,00 Rp72.918,00
Imaji/Musik/Teks
Rp67.010,00 Rp60.309,00
Jalasutra © 2017 - Designed By Yoocart
View Mobile / Standard