Tentang Ideologi: Marxisme Strukturalis, Psikoanalisis, Sastra

Tentang Ideologi: Marxisme Strukturalis, Psikoanalisis, Sastra
Kode Produk: Filsafat
Point Reward: 0
Ketersediaan: Out Of Stock
Harga: Rp62.200,00 Rp52.870,00
Tanpa Pajak: Rp52.870,00
Jml:  Beli
   - ATAU -   
 
Judul : Tentang Ideologi: Marxisme Strukturalis,
Psikoanalisis, Sastra
Penulis : Louis Althusser
Cetakan : 2006
Tebal : 208 halaman
Ukuran : 15 x 21 cm
ISBN : 979-3684-22-4
 
Deskripsi:
Dari Althusser kita belajar sadar adanya ideologi yang selalu menggenangi dan merendam kita; kita perlu belajar untuk sering berganti ideologi, melompat dari satu ideologi ke ideologi lain. Dengan begitu ada harapan bahwa hidup ini akan tidak membosankan dan bukan sekadar mengulang tingkah laku nenek-moyang. Dari sana kita boleh berharap di masa depan akan bertemu dengan realitas yang lebih segar dan berwarna sebagai buah dari keterbukaan pada keragaman cara manusia memaknai dunia dan menempatkan diri.
 
 
Daftar Isi

Avant-Propos: Prawacana dari Penerbit — v

Membaca Althusser dari Beberapa Sisi: Sebuah Pengantar kepada Esai-esai Ideologi Althusser

oleh Bagus Takwin — xv

Ideologi dan Aparatus Negara Ideologis

(Catatan-catatan Menuju Investigasi) — 1

Jawaban untuk John Lewis — 65

Freud dan Lacan — 149

Surat tentang Seni sebagai Jawaban untuk André Daspre — 185

 

 

 

 

 

 

 

 

Membaca Althusser dari Beberapa Sisi:

Sebuah Pengantar kepada Esai-esai Ideologi Althusser

 

BAGUS TAKWIN

 

“BERHARAPLAH, SEBAB harapan yang akan menjagamu tetap hidup.” Tidak sedikit orang percaya kepada nasihat ini. Tidak sedikit pula orang yang merasa mendapat manfaat dengan terus berharap. Mereka terhindar dari putus asa, terhindar dari perasaan hampa, bahkan terhindar dari bunuh diri. Kepercayaan kepada harapan, kepada makna hidup, kepada keberhargaan semua tindakan yang dilakukan, kepada tujuan-tujuan mulia yang diduga terbentang di depan sana. Bagaimana kepercayaan semacam itu dapat menjaga hidup? Bagaimana sesuatu yang tak kongkrit dapat berpengaruh terhadap praktik kehidupan yang penuh pergumulan dengan materi? Bagaimana sesuatu yang ideal seolah-olah menjelma hal faktual?

Kepercayaan tentang harapan hanya satu contoh dari gejala yang mengindikasikan peran penting kepercayaan dalam hidup manusia. Berbagai gejala lain yang melibatkan kepercayaan seperti mitos, iman, bahkan ilmu pengetahuan, menunjukkan ‘kemujaraban’ yang serupa: kepercayaan menjelma kenyataan; ide menjelma fakta.

Penjelasan tentang hubungan antara kepercayaan dan kenyataan bisa kita peroleh dari pemikiran tentang ideologi dari Louis Althusser, seorang filsuf marxis yang melangkah lebih jauh dari Marx dan memodifikasi secara baru pemikiran marxis, bukan hanya bungkusnya, tetapi juga isinya. Althusser membawa pemikiran Marx menjadi lebih sosiologis sekaligus psikologis, menempatkan individu di bawah pengaruh sosial, lebih tepatnya menempatkan manusia di bawah pengaruh struktur, sembari menggali jauh dalam ketidaksadaran dalam kepribadiaan. Kajian sosial makro dari Marx diperluas sampai ke kajian sosial mikro dengan meletakkan kesadaran dan ketak­sadaran dalam diri individu di bawah mikroskop kerangka teoritis strukturalisme yang diwarnai psikoanalisis Lacanian. Althusser tidak hanya melihat bagaimana struktur besar seperti ekonomi, negara (dengan perangkat hukum dan keamanannya), serta agama, berpengaruh terhadap individu dalam kehidupannya di masyarakat, tetapi lebih dasar lagi, ia mengkaji bagaimana sejak tangis pertama bayi di dunia pengaruh-pengaruh struktur sudah mulai ditanamkan di sana.

Sejalan dengan pemikiran Lacan, Althusser percaya bahwa masyarakat, lewat struktur keluarga, sudah memberikan kerang­ka-kerangka yang membatasi ruang pandang individu menge­nali dunia. Dunia seorang manusia sejak semula adalah dunia terbingkai struktur yang tertanam dalam dirinya. Tumbuhlah ia menjadi manusia yang digerakkan struktur, makin menjauh dari dirinya, tak disadari dan tak terhindari.

Althusser adalah pelopor kajian ideologi mikro, ideologi yang menyebar pada seluruh praktik kehidupan, pada tindakan kecil dan besar, pada pikiran awam dan ilmiah, pada percakapan tentang cuaca hari ini dan iklim politik negeri ini, pada semua sela-sela terkecil kehidupan manusia. Ideologi bagi Althusser bukanlah ‘kesadaran palsu’ seperti yang ditegaskan Marx, melain­kan sesuatu yang profoundly unconcious, sebagai hal-hal yang secara mendalam tidak disadari. Ideologi adalah segala yang sudah tertanam dalam diri individu sepanjang hidupnya; history turn into nature, produk sejarah yang seolah-olah menjelma sesuatu yang alamiah. Sejak buaian hingga kuburan, manusia hidup dengan ideologi.

Dari ujung kaki hingga ujung rambut, ideologi menjadi bagian dari mekanisme pengaturan diri, pengelolaan tubuh dan jiwa. Bagaimana kuku jempol harus dibersihkan dan dipotong agar tidak menimbulkan bau, hingga rambut yang harus dipo­tong dan dirawat, semuanya dijelaskan dengan aturan-aturan yang tidak dapat ditemukan dasar epistemologisnya. Penjela­san akhir tentang pengaturan tubuh adalah kepercayaan atau ungkapan tentang ‘sesuatu yang sudah dari sananya’. Kita tak menyadari kapan pemahaman tentang pengelolaan tubuh ter­bentuk dalam benak kita. Kita tak ingat siapa yang menjelaskan cara berpikir yang kita pakai sekarang, dan mengapa cara itu yang kita gunakan. Kita ternyata percaya saja, menerima saja. Begitu terbiasanya kita dengan semua yang ada di dalam dan di sekitar diri sejak bayi sampai dewasa, sehingga tak ada lagi pertanyaan-pertanyaan mendasar yang perlu diajukan. Tubuh ini, pikiran ini, diri ini, beginilah adanya, beginilah wajarnya. Kita pun percaya pada diri kita yang menjelma kenyataan, diri yang sudah jadi organ, melengkapi pencapaian tujuan tertentu dengan mekanisme ajeg yang dibentuk struktrur-struktur di dalam dan di luar diri.

Kepercayaan yang tertanam tanpa disadari itulah yang dinamakan ideologi dalam pengertian Althusser. Kepercayaan yang dipoles sedemikian rupa sehingga tidak seperti kepercayaan. Citra ideal yang dikemas seperti fakta dan dipahami sebagai realitas kongkrit. Harapan yang kemudian menjelma menjadi penanda bagi petanda kongkrit di masa depan. Masyarakat tanpa kelas, pembebasan manusia, kekayaan berlimpah dari industri kapitalisme, kesejahteraan sebab materi berlimpah, ketenangan batin karena bisa menerima kenyataan secara ikhlas, kebenaran universal hasil kerja keras menggunakan ilmu pengetahuan, kebaikan hati dan kebahagiaan sebagai buah dari perilaku bermoral, dan seabreg kepercayaan lainnya, telah melenggang wajar dalam benak manusia. Banyak yang menganggap itulah kenyataan yang sesungguhnya, itulah pegangan hidup. Dari mana asalnya? Mengapa begitu? Jawabannya: dari sananya, dari alam yang sudah terbentang di depan kita. Atau, ada yang mencoba menjelaskan panjang lebar dengan filsafat yang rumit dan berbelit-belit. Ada juga yang menggunakan bukti-bukti empiris menegakkan kepercayaan dengan dasar ilmu sembari meletakkan ilmu di atas pondasi kepercayaan, di atas asumsi yang menjadi kerangka bagi pandangan tentang dunia.

Bagi Althusser, ideologi membawa kita bergerak dalam relasi yang tak nyata namun seolah nyata, menerima yang semu seperti nyata, yang fana sebagai abadi. Tetapi, oleh karena si­fatnya yang tak disadari, manusia berespons seolah semua itu nyata, menanggapi ilusi sebagai realitas sesungguhnya. Begitu kuat pengaruhnya sehingga ilusi-ilusi itu tak dapat diabaikan, tak dapat ditolak oleh manusia.

Bagaimana ideologi sebagai hal-hal yang tertanam men­dalam tanpa disadari itu bekerja menggerakkan manusia? Apa yang dirujuk oleh ideologi dan mengapa kepercayaan-kepercayaan itu ada?

Untuk menjawab ini kita petik Althusser, “…ideologi ‘bertin­dak’ atau ‘berfungsi’ dengan suatu cara yang ‘merekrut’ subjek-subjek di antara individu-individu (ideologi merekrut mereka semua), atau ‘mengubah’ individu-individu menjadi subjek-subjek (ideologi mengubah mereka semua) melalui operasi yang sangat presisi, yang saya namakan interpelasi atau memanggil: ‘hei, kamu yang di sana!’” Ideologi menempatkan individu, manusia yang lahir dari alam, sebagai subjek, sebagai pihak yang memi­liki tanggung jawab, sebab memiliki juga kebebasan, karena ia memiliki identitas yang berbeda dari yang lain, sebagai suatu satuan otonom tersendiri yang seolah-olah lepas dari yang lain. Namun, di sisi lain, sang subjek diletakkan dalam rangkaian struktur yang mengandung relasi antar unsur-unsurnya. Sang subjek ternyata adalah salah satu unsur dari struktur yang hanya berarti ketika menjalin relasi dengan unsur lainnya. Gerak-gerik subjek yang seolah-olah bebas ternyata dibatasi oleh relasi dalam struktur. Kebebasan subjek pada dasarnya adalah ilusi yang diciptakan ideologi agar ia merasa bertanggung jawab dan mendorong dirinya melakukan serangkaian tindakan yang meghidupkan struktur yang ada sebelum ia lahir. Sejak semula ia telah dipersiapkan untuk ‘mengabdi’ kepada jaringan struktur. Bahkan sebelum lahir seorang anak sudah dipersiapkan menjadi pelengkap struktur keluarga, berperan sebagai anak yang akan menyandang nama ayahnya, dipersiapkan untuk menjalankan tugas-tugas yang dikandung perannya. Ketika masuk ke dalam lingkungan yang lebih luas, struktur yang lebih besar langsung menjaring individu. Peran yang lebih kompleks telah disiapkan untuknya dan individu pun menjelma subjek yang memiliki tugas lebih kompleks karenanya perannya. Hingga akhir hayat, belitan struktur terus mengatur gerak-gerik individu, dari langkah terkecil hingga pencapaian tujuan terjauh. Bahkan tujuan yang paling mulia pun sudah ditata oleh struktur dan individu sebagai subjek yang ‘bertanggung-jawab’ dituntut meraihnya. Ideologi yang membentang sebagai jalinan struktur telah memetakan subjek-subjek dalam perannya masing-masing, bekerja melanggengkan struktur melalui reproduksi dari produksi dan relasi produksi. Subjek yang bertanggung-jawab atas ‘kebebasannya’ dan merasa berkewajiban menjalankan peran serta mengikuti pola relasi struktur yang membentuknya pada praktiknya adalah subjek yang taat terhadap aturan-aturan yang dikembangkan oleh Subjek (dengan S bukan s) yang lebih besar darinya. Individu yang menjadi subjek hanyalah perpanjangan dari Subjek. Dalam penjelasan Althusser dikatakan, “…individu diinterpelasi sebagai suatu subjek (bebas) agar ia dapat taat sepenuhnya pada perin­tah-perintah Subjek, yakni agar dia dapat (sepenuhnya) menerima ketaatannya, agar dia membuat gerak-gerik atau tindak tanduk dari ketaatannya ‘sepenuhnya oleh dirinya sendiri’. Tidak ada subjek kecuali dengan, dan demi ketaatannya. Itulah sebabnya mereka ‘menjalaninya sendiri’.” Dengan ketaatan yang diyakini sebagai kehendaknya, subjek menjalankan perannya seolah tanpa paksaan, seolah dengan kuasanya ia bekerja. Dengan begitu, tidak diperlukan pengawasan secara fisik, tidak perlu Subjek ada di dekat subjek-subjek untuk memastikan mereka berkerja seperti yang diharapkan. Para subjek telah mengatur dirinya sendiri sebagai pihak-pihak yang taat dengan ilusi kebebasan dan otonominya.

Implikasi yang diperoleh jika konsep ideologi Althusser kita terima adalah siapa pun tak lepas dari ideologi. Bahkan ketika kita bicara tentang ideologi dan mencoba membongkarnya. Althusser sendiri menegaskan bahwa “…karakter dasar manusia adalah binatang ideologi.” Seolah-olah esensi manusia adalah makhluk ideologi yang tak mungkin lepas darinya, seakan-akan ideologi adalah udara tempat manusia menghirup nafas untuk melangsungkan hidup. Althusser juga menambahkan, “Dalam posisi ini, sama saja bila diperkatakan bahwa tidak ada sesuatu apa pun yang berada di luar ideologi (bagi dirinya sendiri), atau pada saat yang sama, tidak ada sesuatu apa pun yang tidak berada di luar ideologi (bagi ilmu dan realitas).”

Lalu, mengapa dan untuk apa ideologi berbentuk struktur itu ada dan dipertahankan? Althusser mengantar kita dengan kalimatnya, “Bagaimanapun, selagi mengakui bahwa ideologi tidak berhubungan dengan realitas, yakni bahwa mereka adalah ilusi, kita mengakui pula bahwa ideologi sungguh-sungguh membisikkan sebuah kiasan tentang realitas, mereka hanya perlu ‘ditafsirkan’ untuk mengungkapkan realitas dunia dibalik representasi dunia itu (ideologi = ilusi/kiasan).” Kita memerlukan ideologi sebagai bahan kajian untuk membawa kita kepada pemahaman tentang alasan keberadaan dan pengembangan ideologi. Althusser pun menunjukkan usahanya dalam hal ini, “…sambil berbicara dalam ideologi, dan dari dalam ideologi pulalah kita dapat menggarisbawahi sebuah wacana yang men­coba untuk memutus ideologi, agar berani menjadi awal wacana ilmiah (artinya, tanpa subjek) mengenai ideologi.”

Memahami bagaimana ideologi memanggil dan men­empatkan individu sebagai subjek, dapat dijelaskan dari dua pendekatan. Pertama, pendekatan psikoanalis Freudian yang ditafsirkan oleh Jacques Lacan yang menunjukan bahwa individu selalu telah menjadi subjek, bahkan sebelum ia lahir. Althusser dengan petunjuk Freud menyatakan bahwa “…individu-individu selalu bersifat ‘abstrak,’ berkenaan dengan subjek-subjek yang selalu menyudah, hanya dengan memperhatikan ritual ideologi yang melingkungi harapan ‘kelahiran’, yakni sebagai ‘peristiwa bahagia’… seorang bakal anak diharapkan: sebelumnya sudah pasti bahwa bakal anak ini akan memikul Nama Bapaknya, dan karenanya, akan memiliki identitas dan tak bisa digantikan. Den­gan demikian, sebelum kelahirannya, anak selalu-telah menjadi subjek, diangkat di dalam dan oleh konfigurasi ideologi keluarga yang khusus, yang ‘diharapkan’ telah dipahami bersama.”

Untuk apa anak harus memiliki identitas dan berperan dalam struktur keluarga, untuk kemudian bekerja dalam struktur yang lebih besar? Pandangan biologisme yang mendasari Freud mem­berikan asumsi dasar bahwa manusia sebagai makhluk hidup secara alamiah dibekali oleh insting hidup yang mendorong individu untuk mempertahankan hidup dan menjaga kelangsun­gan spesiesnnya. Untuk kepentingan bertahan hidup, individu-individu dipersiapkan sejak sebelum lahir sebagai subjek yang dalam dirinya sendiri memiliki kehendak untuk bertindak demi kelangsungan hidup dan memperpanjang keberadaan spesiesnya di alam ini. Reproduksi produksi, relasi produksi dan diversifikasi produksi adalah perwujudan usaha manusia untuk menjadikan spesies mereka selalu fit dengan alam tempat hidupnya.

Dari Lacan yang secara implisit namun jelas juga menganut biologisme, kita mendapat penjelasan bahwa kemampuan ma­nusia belajar dan meningkatkan keunggulan secara psikologis berangkat dari keterbelakangannya ketika lahir. Pandangan ini kita dapati juga dalam pemikiran biolog Bolk yang menyatakan manusia terlalu cepat lahir sehingga organ-organ fisiologisnya belum matang dan harus menjalani masa ketergantungan yang lama. Minus secara fisiologis yang menyebabkan masa ketergantungan yang lama, memberi kesempatan manusia un­tuk mengalami masa belajar yang lama dan mengembangkan kualitas-kualitas psikologis. Minus secara fisiologis itu pada nanti­nya menghasilkan surplus secara psikologis. Fakta menunjukkan bahwa keunggulan manusia dari makhluk hidup lainnya adalah kualitas psikologisnya yang jauh di atas rata-rata makhluk hidup lain. Kualitas-kualitas psikologis yang memungkinkan manusia bertahan hidup dan melanggengkan spesiesnya lalu dipolakan dalam kebudayaan dan peradaban, menjelma struktur yang kemudian membentuk individu-individu baru sebagai subjek penerus spesies manusia.

Penjelasan kedua mengambil inspirasi dari pandangan sosiologisme yang pada dasarnya sejalan dengan materialisme Marx dan tidak bertentangan dengan biologisme yang men­dasari pandangan Freudian. Kehadiran manusia pun selalu hadir bersama dengan orang lain. Tak dapat kita temukan dalam kenyataan manusia yang muncul sendiri tanpa didahului oleh keberadaan orang lain. Keberadaan orang lain merupakan syarat mutlak bagi keberadaan manusia di dunia, dan itu bukan tanpa sebab. Keberadaan orang lain itu memang dibutuhkan oleh setiap manusia. Sejak lahir hingga akhir hidupnya manusia selalu membutuhkan orang lain. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis yang harus dipenuhi agar bertahan hidup tidak dapat dipenuhi sendiri oleh manusia. Sumberdaya pemenuh kebutuhan yang tidak selalu ada untuk dikonsumsi menuntut usaha manusia untuk mengusahakannya. Mengingat keterbatasan sumberdaya yang terbatas, sementara kebutuhan tak habis-habis bahkan selalu bertambah, individu harus bersaing dengan individu lainnya untuk dapat mengkonsumsi sumberdaya pemenuh kebutuhan. Kondisi itu dapat menghasilkan dua kemungkinan kondisi, individu bekerja sama dengan individu lain, atau individu bertentangan dengan individu lain memperebutkan sumberdaya pemenuh kebutuhan. Sejarah menunjukkan bahwa kedua kondisi itu terjadi dalam peradaban manusia. Sekelompok individu ber­tentangan dengan kelompok individu yang lain. Marx bahkan menempatkan masyarakat sebagai pertentangan antara dua kelas yang berbeda. Setiap kelas berusaha untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan berbagai cara, termasuk menciptakan dan menggunakan ideologi. Inilah dasar pembentukan ideologi, membantu manusia untuk mendapatkan sumberdaya pemenuh kebutuhan bagi diri dan kelompoknya sambil mencegah lawan-lawannya untuk mendapatkan hal yang sama.

Untuk dapat bertahan, setiap individu dalam kelompok harus mampu menjaga berlangsungnya usaha pemenuhan ke­butuhan yang wujud kongkritnya adalah produksi. Usaha-usaha itu dilakukan sedemikian rupa dan setiap usaha yang dianggap baik bagi produksi dipertahankan, dibakukan dan diwariskan kepada generasi penerus, dengan kata lain, terus direproduksi. Setiap individu baru dipersiapkan untuk menjadi penerus proses produksi, menjadi alat bagi reproduksi produksi dan peleng­kap bagi relasi produksi. Reproduksi produksi mencakup pula reproduksi sumberdaya manusia sebagai tenaga kerja yang terampil menghasilkan sumberdaya pemenuh kebutuhan. Bukan hanya keterampilan yang dubutuhkan, tetapi juga kesiapsediaan dan kepatuhan mereka. Tentang ini Althusser menjelaskan, “… reproduksi tenaga kerja membutuhkan tidak saja reproduksi keahlian mereka, tetapi juga, pada saat yang sama, reproduksi ketundukan (submission) sumber daya manusia kepada aturan-aturan dari tatanan yang sudah mapan, misalnya reproduksi ketundukan terhadap ideologi yang sedang beroperasi terha­dap para buruh, dan reproduksi keahlian dalam memanipulasi ideologi yang sedang beroperasi secara tepat, bagi agen-agen eksploitasi dan represi, sehingga mereka pun akan tunduk kepada dominasi kelas yang berkuasa.”

Lewat berbagai cara, usaha reproduksi produksi dilaku­kan. Penitikberatan kepada reproduksi sumberdaya manusia belakangan menjadi sangat penting. Muncullah pendidikan yang dilembagakan dalam bentuk sekolah sebagai tempat un­tuk menghasilkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan reproduksi produksi. Menurut Althusser, “…sekolah (demikian juga dengan institusi Negara lainnya, semisal institusi keagamaan, atau aparatus lain seperti tentara) mengajarkan ‘know how’, tetapi dalam bentuk yang memastikan kepatuhan terhadap ideologi yang sedang berkuasa atau kepiawaian dalam ‘praksis.’”

Dalam penjelasan Althusser, semua agen produksi, eksploi­tasi dan represi, termasuk para ‘profesional dari ideologi’, dengan cara sedemikian rupa harus ikut bergerak seirama dalam ideologi yang mendukung produksi agar dapat menjalankan tugasnya dengan ‘teliti’ dan ‘berguna’ bagi reproduksi produksi. Berbagai pihak dalam masyarakat terlibat dalam proses reproduksi dan produksi dalam relasi produksi yang terus diperatahankan dan dikembangkan. Semua dengan tugas masing-masing. Tugas pihak yang dieksploitasi (proletar) dipertahankan, begitu juga pihak yang mengeksploitasi (kapitalis), perangkat pengeksploi­tasi (manajer), atau para ‘pemikir’ dari ideologi yang sedang beroperasi (ilmuwan, pendeta, guru, konsultan, teknokrat dan sebagainya).”

Untuk menjaga keberlangsungan proses reproduksi produksi dan relasi produksi, negara dikembangkan sebagai struktur ter­tinggi yang mempersatukan dan memaksa individu tetap rekat dan bergerak menjalankan proses-proses itu. Negara dengan aparatusnya menjaga dengan berbagai cara agar kondisi yang menunjang reproduksi dan relasi produksi berlangsung terus. Althusser lalu membedakan dua jenis aparatus negara menjadi: (a) Repressive State Apparatus (RSA) yang bekerja dengan cara represif lewat penggunaan kekerasan (militer, polisi, hukum, penjara dan pengadilan); dan (b) Ideological State Apparatus (ISA) yang bekerja dengan cara persuasif, ideologis (agama, pen­didikan, keluarga, media massa, dan sebagainya). Dengan dasar pemikiran bahwa setiap individu sudah dipersiapkan sebagai subjek yang akan diletakkan dalam struktur-struktur sejak struk­tur terkecil keluarga hingga negara, ISA bekerja secara mujarab menggiring individu menjadi subjek yang dengan kerelaaan dan kehendaknya menjadi makhluk-makhluk bentukan yang bekerja melanggengkan proses reproduksi produksi tanpa perlu diawasi. Lebih jauh lagi, setiap individu juga berperan sebagai agen ideologi yang ikut serta menyebarkan ideologi melalui berbagai struktur sesuai dengan perannya, baik sebagai anggota keluarga, pekerja, pemikir, guru, pendeta dan sebagainya.

Jelas bagi Althusser, setiap orang berperan menyebarkan ideologi dan menjadikan masyarakat ideologis. Baginya, tidak mungkin ada sebuah masyarakat yang terbebas dari ideologi. Ideologi merupakan semacam perekat bagi bersatunya anggota-anggota masyarakat. Inilah sisi positif dari ideologi, meskipun kewaspadaan terhadap ‘perekat’ itu harus terus dijaga. Dengan pemahaman seperti itu, Althusser tidak berniat untuk mem­bebaskan manusia dari ideologi. Baginya, ideologi memiliki sisi baik. Ideologi merupakan reaksi terhadap satu dominasi. Setiap penindasan akan menghasilkan suatu usaha pada pihak tertindas untuk melepaskan diri. Salah satu alat penting dan perlu ada dalam upaya pembebasan ini adalah ideologi, suatu kepercayaan yang dibangun untuk menggerakkan kelompok si tertindas (semacam ideologi kelas dalam tradisi pemikiran Leninisme). Ketika pihak tertindas berhasil bebas dan berkuasa, ideologi mereka bisa saja digunakan untuk menindas pihak lain yang lebih lemah. Begitu terus-menerus. Di sini terlihat peran ideologi dalam jatuh-bangunnya suatu kelompok. Ideologi lahir dari sebuah hubungan kekuasaan sebagai salah satu reaksi dari pihak-pihak tertindas untuk membebaskan diri.

Penjelasan Althusser tentang ideologi membawa kita kem­bali kepada peran harapan yang sempat dikutip di awal tulisan­nya. Ideologi seperti harapan, pada porsi tertentu ia memberi semangat hidup dan menggerakan manusia untuk bergerak maju. Tetapi dalam porsi yang lain ia bisa membius, menjadi ilusi yang membutakan dan berujung kepada kekecewaan yang melumpuhkan.

Seperti hidup yang mengalir karena ada harapan bahwa di ujung sana makna hidup dan kebahagiaan menyambut manusia, sebuah masyarakat dengan ideologinya bergerak dan tumbuh, berkembang menjadi lebih baik. Namun jika bius ideologi yang sama terus-menerus disemprotkan pada setiap sendi kehidupan, maka kelumpuhan akan menjadikan sebuah masyarakat man­deg, bahkan punah. Dari Althusser kita belajar bahwa dengan kesadaran akan danau ideologi yang selalu menggenangi dan merendam kita, maka kita perlu belajar berenang untuk sering berganti danau, melompat dari satu genangan ideologi ke genangan yang lain. Dengan begitu ada harapan bahwa hidup ini akan jadi tidak membosankan dan bukan sekedar mengulang tingkah laku nenek-moyang. Dengan membaca Althusser kita jadi terbuka pada banyak hal yang berbeda dengan kita, dan selalu siap merombak ruang-ruang dalam diri yang mungkin terlalu yakin dengan kepercayaan-kepercayaan usang. Lalu kita pun boleh berharap bahwa di masa depan kita akan bertemu dengan realitas yang lebih segar dan berwarna sebagai buah dari keterbukaan kita pada keragaman cara manusia memaknai dunia dan menempatkan diri di sana.[]

 

Tulis review

Nama Anda:


Review Anda: Note: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Bagus

Masukkan kode verifikasi berikut:



Bestsellers
Pesan, Tanda, dan Makna
Rp120.010,00 Rp108.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Elemen-elemen Semiologi
Rp58.010,00 Rp52.209,00
Berdasarkan pada 1 review.
Feminist Thought
Rp130.010,00 Rp117.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Dominasi Maskulin
Rp56.010,00 Rp50.409,00
Catatan Harian Anne Frank
Rp99.000,00 Rp72.918,00
Imaji/Musik/Teks
Rp67.010,00 Rp60.309,00
Jalasutra © 2018 - Designed By Yoocart
View Mobile / Standard