Alienasi*

Alienasi*
Kode Produk: Filsafat
Point Reward: 0
Ketersediaan: Tersedia
Harga: Rp99.000,00 Rp76.509,00
Tanpa Pajak: Rp76.509,00
Jml:  Beli
   - ATAU -   
 
Judul : Alienasi
Penulis : Richard Schacht
Cetakan : 2005
Tebal : 432 halaman
Ukuran : 15 x 21 cm
ISBN : 979-3684-35-6
 
 
Deskripsi:
Richard Schacht telah menulis buku yang sangat dibutuhkan. Ia menuturkan kepada kita secara ringkas bagaimana ‘alienasi’ digunakan sebelum tahun 1800, memperlihatkan bagaimana Hegel berbicara tentang alienasi, bagaimana Marx menggunakan istilah tersebut Schacht melanjutkan dengan menyuguhkan kritik yang rinci terhadap pelbagai pengertian yang dipakai oleh Erich Fromm ketika menggunakan istilah tersebut, tentang Karen Horney. 
 
Suatu survei yang sangat menarik atas literatur sosiologi kontemporer tentang alienasi dan akhirnya pembahasan atas apa yang dilakukan oleh Heidegger, Tillich, dan Sartre.
 
 
Daftar Isi 
 
Avant-Propos: Prawacana dari Penerbit ix
Ucapan Terima Kasih xiii
Esai Pendahuluan oleh Walter Kaufmann xv
Pendahuluan 1
 
1. Latar Belakang Linguistik dan Intelektual 11
Penggunaan Tradisional dari ‘Alienasi’ dan Entfremdung 11
I. Istilah ‘Alienasi’ 12
II. Istilah Entfremdung 16
Para Tokoh yang Hidup Pada Masa Hegel dan Sebelumnya 18
I. Alienasi dalam Teologi Awal 18
II. Alienasi dalam Teori Kontrak Sosial 20
III. Para Tokoh yang Hidup pada Zaman Hegel: Fichte dan Schiller 26
Berbagai Pandangan Awal Hegel 31
I. ‘Tulisan-tulisan Teologis Awal’ 32
II. Esai tentang Fichte dan Schelling 37
III. Esai-esai Politik Awal Hegel 41
 
2. Phenomenology of Spirit karya Hegel 49
I. Pendahuluan 49
II. Pengertian Pertama ‘Alienasi’
(sebagai Pemisahan) 55
III. Pengertian Kedua ‘Alienasi’ (sebagai Penyerahan) 65
IV. Alienasi, Objektifikasi, dan Keliyanan 75
V. Cara Mengatasi Alienasi 78
VI. Evaluasi 83
 
3. Tulisan-tulisan Awal Marx 93
I. Pendahuluan 93
II. Manusia dan Pekerjaan 101
III. Alienasi dari Produk Seseorang 115
IV. Alienasi dari Pekerjaan 121
V. Alienasi dari Sesama Manusia 129
VI. Alienasi-Diri 137
VII. Asal Mula dan Cara Mengatasi Alienasi 145
VIII. Kesimpulan 151
 
4. Erich Fromm dan Karen Horney 159
Erich Fromm 160
I. Pendahuluan 160
II. Hubungan Manusia dengan Alam 162
III. Hubungan Manusia dengan Sesama Manusia 167
IV. Hubungan Manusia dengan Masyarakat 175
V. Hubungan Manusia dengan Dirinya Sendiri 178
VI. ‘Alienasi’ dalam Konteks Lain 186
VII. Kesimpulan 190
Karen Horney 192
I. New Ways in Psychoanalysis 192
II. Our Inner Conflicts 195
III. Neurosis and Human Growth 198
 
5. Literatur Sosiologi 209
I. Pendahuluan 209
II. Alienasi dan Sesama Manusia 213
III. Alienasi dan Pekerjaan 219
IV. Alienasi, Peristiwa, dan Struktur 224
V. Alienasi, Budaya, dan Masyarakat 239
VI. Kesimpulan 259
 
6. Teologi dan Filsafat Eksistensial 267
I. Pendahuluan 267
II. Entfremdung dalam Being and Time karya Heidegger 271
III. Keterasingan dalam Systematic Theology karya Tillich 278
IV. Aliénation dalam Karya Terpenting Sartre 294
Tambahan: Antropologi Filsafat: Arnold Gehlen dan Hebmuth Plessner 311
 
7. Alienasi: Pertimbangan Umum 319
I. Pendahuluan 319
II. Usaha Sistematis untuk Melakukan Generalisasi 325
III. Berbagai Pembatasan yang Diajukan 334
IV. Persoalan Mendasar 348
 
Esai Penutup oleh Erick Heroux 359
Referensi 417
Indeks 429
 
 
AVANT-PROPOS:
PRAWACANA DARI PENERBIT
Di akhir abad 20, konsep alienasi dan keterasingan telah digunakan oleh banyak filsuf, ilmuwan sosial, teolog, seniman, dan kritikus untuk menggambarkan sejenis eksistensi yang telah menjadi hal yang umum di dunia modern. Eksistensi semacam ini seringkali dipandang sebagai kehidupan yang tidak diinginkan. Dalam istilah umumnya, orang yang teralienasi biasanya digambarkan sebagai orang yang entah bagaimana tercerabut dari diri “sejati”-nya, budayanya, alam, orang lain, kehidupan politik, bahkan Tuhan. Terkadang ungkapan injili, “dosa adalah keterpisahan” digunakan untuk menekankan keburukan dari alienasi. Kebanyakan sastra modern di Barat telah menjadi periwayatan tentang ketragisan, kekalahan diri, dan seringkali upaya fatal manusia untuk merasa betah berada di dunia.
 
Bahwasanya konsep alienasi dan keterasingan itu penting jika ingin memahami kehidupan di dunia kontemporer, barangkali bahkan untuk memahami eksistensi manusia yang ditemukan kapanpun atau dimanapun. Secara lebih langsungnya lagi, dengan memahami konsep ini kita akan terbantu untuk memahami eksistensi dari orang-orang yang, dikarenakan warna kulit, jenis kelamin,budaya, agama, atau status ekonomi, secara paling dramatis dipisahkan dari budaya tempat mereka hidup. Penggambaran bahwa manusia modern adalah manusia yang teralienasi atau terasingkan adalah kontroversial. Beberapa kontroversi tersebut disebabkan oleh asosiasi konsep ini dengan karya Karl Marx serta para pengikut politk dan intelektualnya. Selain itu, umumnya orang membuat kesalahan serius ketika mencoba mempelajari konsep ini secara serius dikarenakan konotasi Marxisnya. “Alienasi” dan “Keterasingan” telah memiliki makna yang sangat berbeda ketika konsep tersebut muncul dalam karya para pemikir yang berbeda.
 
Dalam Specters of Marx, Derrida juga melontarkan kritik terhadap teori Marx tentang alienasi dan mengajukan teorinya sendiri tentang nilai. Terkait ajuan-ajuan Marx yang memandang persepsi tentang produk dari seorang buruh itu sendiri sebagai makhluk asing (alien beings), Derrida mengatakan
 
Since any use-value is marked by the possibility of being used by the other or being used another time, this alterity or iterability projects it a priori onto the market of equivalences… In other words, as soon as their is production, there is fetishism…Marx believes he must limit this coextensivity to commodity production. In our view, this is a gesture of exorcism…Thinking never has done with the conjuring impulse… —i.e. alienation is a universal human condition… It is necessary to introduce haunting into the very construction of a concept.
 
Jadi “telah tertuliskan” bahwa ketika manusia memproduksi sesuatu, mengubah alam, hal tersebut mengkonfrontasi dirinya sebagai makhluk asing (alien thing)—”hantu”. Dan sebaliknya, segala hal dari dunia eksternal yang dilihatnya sebagai alien adalah benarbenar produk. Maka nilai bukanlah produk dari moda produksi spesifik tetapi eksis dalam kemungkinan pertukaran komoditi. Lebih jauh Derrida menyatakan bahwa
 
…If a work of art can become a commodity, and if this process seems fated to occur, it is also because the commodity began by putting to work, in one way or another, the principle of an art… The commodity is a born ‘cynic’ because it effaces differences… this original cynicism was already being prepared in use-value… exchange-value: it is likewise inscribed and exceeded by a promise of gift beyond exchange. In a certain way, market equivalence arrests or mechanises the dance that it seemed to initiate. I.e., the possibility of exchange ‘inscribes’ value into the commodity, in advance.
 
Di sini tidak terlalu jelas apakah Derrida memaksudkan bahwa semua yang suka berpikir adalah pencipta hantu ataukah bahwa buruh hanya memperjelas apa yang telah dituliskan. Barangkali keduanya atau bukan keduanya sama sekali. Yang jelas adalah, sebagaimana diutarakan oleh Margareth Thatcer: tak ada alternatif, “hal itu telah tertuliskan”. Tindakan para buruh yang paling tepat adalah membiarkan yang tak terelakkan, menempatkan seseorang menjalani takdir yang telah tertuliskan. Konsep tentang masyarakat informasi hanyalah setengah jalan menuju konsepsi sifat dasar gramatikal, Holy Writ dari eksistensi itu sendiri. Pasar tidaklah menciptakan kemungkinan nilai dan alienasi, pasar sebenarnya “menahan tarian”, membuat resolusi kegilaan yang telah ditakdirkan.
 
Sementara itu, gagasan lain tentang alienasi yang cukup menarik datang dari Jacques Lacan. Lacan adalah seorang psikoanalisi dan tidak bergulat langsung dengan filsafat. Tentu saja, dia terpengaruh filsafat juga, karena dia adalah intelektual serius pada zamannya. Namun kita dapat menemukan tanda-tanda Lacan baik sebagai psikoanalisis dan filsuf dalam bidang filsafat, linguistik, semiotika, sosiologi dan dalam bidang humaniora lainnya. Dengan membaca teksnya kita dapat menemukan imaji budaya juga pendidikan sebagai kekuatan yang sangat destruktif dan agresif. Misalnya, membaca esainya yang bejudul “Mirror Stage” atau bukunya yang berjudul “The Four Fundamental Concepts of Psychoanalysis”, kita belajar bahwa budaya dan bahasa telah mengalienasikan kita. Dalam pandangannya, alienasi adalah poin dasar dari identifikasi manusia. Dalam alienasilah anak memperoleh pengalaman keterpisahan pertamanya, yang menjadi operasi pertandaan yang krusial.
 
Kita dapat menemukan dalam pemikiran Lacan bahwa dia menggambarkan budaya, bahasa dan pendidikan sebagai bentuk alienasi, kekerasan dan keterpisahan. Dalam pendidikan, anak memperoleh suatu sistem eksternal, yang diselusupkan oleh (m) other (ibu atau juga liyan). Maka, budaya dan bahasa merupakan produk dari liyan (other), suatu kekuatan agresif dan eksternal. Untuk menjadi seorang manusia, anak harus menolak dunia batinnya sendiri dan harus mengikuti edifikasi (m)other dan memperoleh aturan eksternal dari permainan tersebut, yaitu, bahasa dan budaya. Menurut Oliver Kelly, alienasi bukanlah alienasi spekular dari tahapan cermin namun alienasi diperlukan untuk pertandaan dan relasi subjek kepada bahasa. Sebagaimana bahasa menjadi yang terpenting, alienasi yang inheren dalam bahasa juga menjadi yang terpenting. Bahasa, menurut Lacan, merupakan alienasi dan kekerana budaya yang tersembunyi. Lacan menggunakan retorika alienasi, namun kita tidak dapat menyimpulkan bahwa dia mencoba memperlihatkan seluruh kebudayaan manusia sebagai kekerasan dan kejahatan.
 
Buku ini bertujuan untuk: 1) Memperkenalkan konsep tentang alienasi dan keterasingan dengan menekankan kepada fenomena keseharian; 2) Memperkenalkan beberapa uraian ketat tentang alienasi dan keterasingan sebagaimana ditemukan dalam karya beberapa filsuf dan ilmuwan sosial kontemporer; 3) Memunculkan kemungkinan bahwa alienasi adalah deskripsi akurat dari eksistensi manusia di dunia kontemporer; 4) Membantu memahami lebih baik kondisi orang-orang tersebut yang—dikarenakan ras, budaya, seks, status ekonomi, dan lain sebagainya—adalah alien di negeri tempat mereka hidup.[] 
 
Penerbit

 

Tulis review

Nama Anda:


Review Anda: Note: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Bagus

Masukkan kode verifikasi berikut:



Tags: Alienasi, Schacht,
Bestsellers
Pesan, Tanda, dan Makna
Rp120.010,00 Rp108.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Elemen-elemen Semiologi
Rp58.010,00 Rp52.209,00
Berdasarkan pada 1 review.
Feminist Thought
Rp130.010,00 Rp117.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Dominasi Maskulin
Rp56.010,00 Rp50.409,00
Catatan Harian Anne Frank
Rp99.000,00 Rp72.918,00
Imaji/Musik/Teks
Rp67.010,00 Rp60.309,00
Jalasutra © 2018 - Designed By Yoocart
View Mobile / Standard