Kesadaran Plural: Sebuah Sintesis Rasionalitas dan Kehendak Bebas

Kesadaran Plural:  Sebuah Sintesis Rasionalitas dan Kehendak Bebas
Kode Produk: Filsafat
Point Reward: 0
Ketersediaan: Tersedia
Harga: Rp86.000,00 Rp52.717,00
Tanpa Pajak: Rp52.717,00
Jml:  Beli
   - ATAU -   
Kesadaran Plural: 
Sebuah Sintesis Rasionalitas dan Kehendak Bebas
Bagus Takwin
 
ISBN: 979-3684-12-7
xxxvi + 284 hlm; 15 x 21 cm
Penerbit Jalasutra
 
 
Pengantar Penulis — ix
Avant-Propos: Prawacana dari Penerbit — xv
Prolog — 1
 
1::Konsep Kesadaran dan Keterbukaan Manusia— 21
A. Konsep Kesadaran — 22
• Pengertian Kesadaran — 22
B. Penelusuran Konsep Kesadaran sejak masa Yunani Kuno hingga Akhir Abad Ke-20 — 27
• Konsep Kesadaran Masa Yunani Kuno hingga Abad Pertengahan — 27
• Konsep Kesadaran Abad Modern — 31
• Konsep Kesadaran di Awal Abad Ke-20 — 38
• Konsep Kesadaran di Akhir Abad Ke-20 — 44
• Pemikiran Kontemporer tentang Kesadaran — 53
• Implikasi Penelusuran Historik terhadap Konsep Kesadaran — 71
• Keterbukaan Pikiran dan Kaitannya dengan Kesadaran Manusia — 78
• Kesimpulan — 82
 
2::Rasionalitas dalam Kesadaran Manusia — 85
• Pengertian-pengertian Rasionalitas, Dasar Perumusannya, serta Kritik Terhadapnya — 86
A. Rasionalitas Sebagai Kualitas Esensial Manusia — 93
• Rasionalitas yang Membedakan Manusia dengan Makhluk Hidup Lainnya — 93
• Rasionalitas sebagai Esensi Manusia dengan Rasio sebagai Pusatnya — 106
• Rasionalitas sebagai Esensi Manusia dengan Dasar Rasio Dialektik — 117
• Rasio dan Rasionalitas Kritis menurut Immanuel Kant — 121
B. Rasionalitas Bertujuan — 134
• Rasio untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia — 134
• Rasionalitas sebagai Alat Pemenuhan Keinginan — 139
• Pemikiran tentang Rasionalitas Berdasarkan Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan — 146
• Rasionalitas Plural — 155
C. Kritik terhadap Konsep Rasio dan Rasionalitas — 161
• Kategori-kategori sebagai Pembatas Rasionalitas Manusia — 161
• Kritik Terhadap Rasionalisme dari Henri Bergson — 165
• Keterbatasan Penalaran Manusia Menurut Wittgenstein — 167
• Konstruksi Konsep Rasionalitas Baru — 173
• Poskrip — 179
 
3::Kehendak Bebas dalam Kesadaran — 181
• Manusia sebagai Makhluk yang Berkehendak Bebas — 182
• Pengertian Umum Kehendak Bebas — 192
• Kehendak Bebas sebagai Dasar bagi Moralitas — 196
• Kehendak Bebas sebagai Dasar bagi Kreativitas dan Perkembangan Manusia — 201
• Kehendak Bebas yang Memungkinkan Keragaman Penafsiran tentang Dunia — 205
• Hubungan antara Kehendak Bebas dan Rasionalitas — 207
• Poskrip — 208
 
4::Konsep Kesadaran dengan Kehendak Bebas dan Rasionalitas — 209
• Kesadaran yang Rasional dan Berkehendak — 210
• Dinamika Kerja Kesadaran Manusia — 215
• Kualitas Keterbukaan dalam Kesadaran — 226
• Metode Kerja Kesadaran dalam Kegiatan Memahami Realitas — 228
• Poskrip — 234
 
Epilog — 237
• Kesimpulan — 221
• Catatan Kritis — 240
Apendiks
Keterbatasan Penalaran Manusia Menurut Wittgenstein — 245
Catatan-catatan — 253
Bibliografi — 265
Indeks — 275
 
 
 
 
 
Kata Pengantar
 
Apakah manusia rasional? Apakah manusia memiliki kehendak bebas? Bisakah manusia rasional sekaligus bebas? Jika manusia rasional, apakah ia terikat oleh hukum tertentu? Jika manusia berkehendak bebas, apakah ia juga bebas dari rasionalitas, dari aturan-aturan tentang kebenaran? Apa arti kebenaran bagi manusia yang bebas? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang mendorong saya untuk melakukan kajian tentang rasionalitas dan kehendak bebas yang kemudian saya kaitkan dengan kesadaran. Kebingungan demi kebingungan, perdebatan demi perdebatan serta berbagai pengalaman dalam keseharian mendorong saya untuk lebih keras lagi mencari tahu tentang rasionalitas dan kebebasan manusia. Dua topik ini begitu kuat menarik pikiran dan perasaan saya karena keduanya merupakan bagian yang kental dengan keseharian saya. Sebagai seorang pengajar mata kuliah logika yang menekankan pentingnya berpikir rasional untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, saya melihat betapa pentingnya rasionalitas dalam hidup manusia. Di sisi lain, sebagai pengajar teori-teori kepribadian yang banyak bertemu dengan pandangan-pandangan yang menyatakan manusia sebagai makhluk yang berkehendak bebas, saya juga memahami alasan mengapa manusia perlu diandaikan sebagai makluk yang bebas, paling tidak berkehendak bebas.
 
Persoalannya muncul ketika kita mau memadukan rasionalitas dan kehendak bebas sebagai dua unsur dari kepribadian manusia. Jika manusia rasional maka ia akan mengarahkan dirinya sesuai dengan pertimbangan rasionya, sesuai dengan hukum-hukum berpikir yang benar. Ia juga akan menghindari dorongan naluriah atau kehendak yang tidak memiliki penjelasan logis. Di sisi lain, jika manusia berkehendak bebas maka ia dapat menghendaki apa pun yang ia mau lepas dari apakah itu masuk akal atau tidak, logis atau mitis, rasional atau irasional. Kehendak bebas mendorong manusia untuk menghendaki apa pun lepas dari pengaruh-pengaruh di luar dirinya. Bagaimana orang yang rasional sekaligus juga berkehendak bebas termasuk berkehendak untuk tidak rasional, bertindak tanpa dasar pemikiran yang logis? Sekali lagi, bisakah orang rasional sekaligus berkehendak bebas?
 
Jika kita memaknai pengertian rasional secara konvensional dalam arti bertindak berdasarkan alasan yang jelas, relevan, masuk akal dan benar maka jawabannya: tidak mungkin orang rasional sekaligus berkehendak bebas. Kehendak bebas merupakan awal mula sekaligus alasan yang mencukupi bagi semua keinginan dan tingkah laku yang dipilih sendiri oleh manusia. Ketika kehendak bebas menghendaki maka tidak diperlukan alasan selain kehendak bebas menghendakinya. Misalnya, orang yang berhenti bekerja karena pilihannya sesuai dengan kehendak bebas tidak perlu mengemukakan alasan yang jelas, relevan, masuk akal dan benar dari tindakannya berhenti kerja. Ia berkehendak bebas tetapi tidak rasional. Di sisi lain, jika dan hanya jika ia bisa menjelaskan alasan yang jelas, relevan, masuk akal dan benar baru ia bisa berhenti bekerja (lepas dari kehendak bebasnya menginginkan atau tidak) dan ia mampu melakukannya, maka ia rasional tetapi tidak berkehendak bebas. Ia mampu membuat alasan yang jelas, relevan, masuk akal dan benar tetapi tidak dapat menggunakan kehendak bebasnya. Di sini kita melihat bahwa rasionalitas dan kehendak bebas sebagai dua hal yang bertentangan. Sepertinya, orang tidak bisa rasional sekaligus berkehendak bebas. Dalam kasus lain kita menemukan rasionalitas diperlukan oleh manusia saat ia harus mempertanggungjawabkan tindakan-tindakannya yang didasari kehendak bebas. Ia harus mempertanggungjawabkan tindakannya sebagai orang yang memilih sendiri tindakan yang mau ditampilkan. Penjelasannya sebagai salah satu wujud tanggung jawab harus disampaikan secara jelas, relevan, masuk akal dan benar. Di sini terlihat kehendak bebas memiliki hubungan erat dengan rasionalitas. Mana yang dapat kita pegang: rasionalitas dan kehendak bebas saling bertentangan atau justru saling melengkapi? Bisakah manusia rasional dan sekaligus berkehendak bebas?
 
Mempertemukan kehendak bebas dan rasionalitas adalah ambisi terjauh dari kajian yang saya lakukan. Apa yang tersaji dalam buku ini adalah usaha awal menuju kesana. Saya mengambil posisi bahwa rasionalitas dan kehendak bebas ada dalam diri manusia. Keduanya menjadi bagian penting dari kepribadian manusia. Keduanya merupakan unsur dari satu kesatuan yang sama. Bahwa kita sering melihatnya sebagai dua hal yang terpisah bahkan bertentangan karena kita tidak memahami keduanya secara menyeluruh. Saya menempatkan keduanya sebagai fungsi dari kesadaran. Dalam buku ini saya membuat model kesadaran yang rasional dan berkehendak bebas dengan menggunakan metode konstruktif. Berangkat dari gambaran kehidupan manusia di dunia yang pluralistik dan saling memahami sebagai tujuan, saya menguraikan syarat-syarat dari gambaran itu. Penguraian itu membawa saya kepada kesimpulan bahwa pencapaian tujuan itu membutuhkan keterbukaan manusia. Keterbukaan manusia mensyaratkan adanya kesadaran yang rasional dan berkehendak bebas dalam diri manusia untuk dapat menerima perbedaan dan mengajukan pendapat berbeda yang memiliki kualitas kebenaran masing-masing. Kehendak bebas diiringi dengan rasionalitas memberikan kemampuan kepada manusia untuk melihat suatu hal dari sudut pandang tetrentu dan mengajukan pendapat yang masuk akal. Rasionalitas diiringi kehendak bebas memberi kemampuan kepada manusia untuk dapat memahami pendapat-pendapat yang berbeda sebagai pilihan  yang benar bagi mereka yang menganutnya. Dengan kesadaran yang rasional dan berkehendak bebas manusia dapat terbuka terhadap pluralitas dan tetap mampu memahami realitas secara rasional.
 
Buku ini semula adalah tesis program magister saya di Program Studi Ilmu Filsafat Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Beberapa perubahan disertai penyuntingan dari editor membawa buku ini hadir di hadapan pembaca seperti yang ada sekarang. Untuk itu saya berterima kasih kepada teman saya Alfathri Adlin dan Penerbit Jalasutra. Saya juga berterima kasih kepada Satia “Acia” Nugraha yang mengerjakan lay-out isi buku, dan Antorio Bergasdito yang mengerjakan cover bukunya. Terima kasih juga untuk Mas Andri Martias yang banyak mendukung dan memfasilitasi proses publikasi buku ini.
 
Tanpa bantuan dari banyak pihak, buku ini tidak mungkin selesai ditulis dan terbit. Saya ingin berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu saya dalam penyelesaian dan penerbitan buku ini. Terima kasih untuk Ibu Dr. Irmayanti Budianto, M.Si. yang telah menjadi pembimbing tesis saya. Saya berterima kasih kepada Prof. Dr. Soerjanto Puspowardojo, Dr. A. Agus Nugroho dan Dr. Haryatmoko yang telah bersedia menjadi penguji dalam ujian akhir untuk mempertahankan tesis saya dan menjadi guru yang memberi banyak pelajaran kepada saya. Terima kasih kepada guru-guru saya Prof. Dr. Fuad Hassan, Prof. Dr. Toeti Herati, Dr. Akhyar Y. Lubis dan Hermini Sumitro, MA. yang telah membimbing dan membukakan cakrawala filsafat selama saya kuliah di Program Studi Ilmu Filsafat Program Pascasarjana FIB. Terima kasih juga untuk teman-teman seangkatan Donny G. Adian, Husain Heriyanto, Mardi Adi Amin, Fadhil, Ardiyanto, Seno Gumira Ajidarma, Saleh Partaonan, M. Saleh Mude, Eki Al Malaky, Pak Hermanto, Pak Syukron, Pak Chaidir dan Pak Wayan. Terima kasih juga untuk para mentor saya di Fakultas Psikologi-UI, Mas Budi Hartono, Mas Budi Matindas, Mbak Julia, Mbak Evita dan Mbak Niniek L. Karim. Saya berhutang budi kepada teman-teman Ponti dan Kantin Psikologi UI. Terima kasih untuk kalian semua. Tentu saja saya berhutang banyak kepada keluarga saya, Bapak, Mamah, Mita dan Wiwied. Terima kasih tak terkira untuk mereka. Akhirnya, terima kasih untuk pembaca yang berkenan membaca buku ini dan terlibat dalam persoalan rasionalitas dan kehendak bebas. Selamat membaca.
 
 
Salam,
Bagus Takwin
 

Tulis review

Nama Anda:


Review Anda: Note: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Bagus

Masukkan kode verifikasi berikut:



Bestsellers
Pesan, Tanda, dan Makna
Rp120.010,00 Rp108.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Elemen-elemen Semiologi
Rp58.010,00 Rp52.209,00
Berdasarkan pada 1 review.
Feminist Thought
Rp130.010,00 Rp117.009,00
Berdasarkan pada 1 review.
Dominasi Maskulin
Rp56.010,00 Rp50.409,00
Catatan Harian Anne Frank
Rp99.000,00 Rp72.918,00
Imaji/Musik/Teks
Rp67.010,00 Rp60.309,00
Jalasutra © 2018 - Designed By Yoocart
View Mobile / Standard